Animated flag images by 3DFlags.comSEMOGA SEMUA YANG SAYA UPLOAD DI BLOG INI BERGUNA BAGI TEMAN-TEMAN, BLOG INI SEBAGIAN BESAR BERISI TENTANG BAHAN-BAHAN KULIAH SAYA YANG JUGA SAYA GUNAKAN SEBAGAI ARSIP SENDIRI, JADI BANYAK YANG BUKAN TULISAN SAYA SENDIRI... MOHON DIMAKLUMI Animated flag images by 3DFlags.com

Rabu, 02 Mei 2012

Pembelajaran HAM Di Sekolah Dasar


Ahmad Samawi

Pada  unit 5 Anda telah mempelajari problem penegakan hukum dan HAM beserta alternatif penyelesaiannya. Melalui unit 6 ini Anda dapat mempelajari pembelajaran HAM di SD. Pembelajaran HAM di SD dimaksudkan untuk mengenalkan dasar-dasar HAM pada anak usia SD. Untuk dapat melaksanakan pembelajaran HAM dengan baik maka perlu direncanakan secara baik pula. Pada unit ini Anda dapat belajar merencanakan dan sekaligus mempraktikkan pembelajaran HAM di SD. Selamat belajar!

Unit 6
Sub unit 1

Perencanaan Pembelajaran HAM Di SD


Pendahuluan

emajuan suatu bangsa sehingga mampu bersaing dengan bangsa lainnya ditentukan oleh beberapa faktor. (1) Sebagian dari kemajuan itu (45%) ditentukan oleh kemampuan bangsa untuk melakukan inovasi dan kreativitas, (2) sebagian (25%) ditentukan oleh kemampuan membangun networking (jaringan),  (3)    kemampuan menguasai teknologi  (20%), dan (4) hanya sebagian kecil  (10%) ditentukan oleh sumber daya alam (natural resources).
Untuk menguasai kemampuan tersebut di atas dibutuhkan kecerdasan kehidupan bangsa. Usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa ditentukan oleh kemajuan pendidikan. Pendidikan SD yang relevan dan bermutu merupakan investasi (human investement) peningkatan kualitas sumber daya manusia atau human development index. Hal ini berdasarkan pertimbangan sebagai berikut.
1.
 Pendidikan di SD sebagai basis pengembangan dan peningkatan kualitas pendidikan selanjutnya
2.
 Pendidikan di SD ditentukan struktur kurikulumnya, termasuk didalamnya HAM yang terintegrasi di dalam mata pelajaran.
3.
 Rancangan kurikulum yang baik menentukan masa depan pendidikan anak selanjutnya.


Hakikat Anak SD

Sebelum melaksanakan pembelajaran HAM di SD, perlu dipahami lebih dulu apa dan siapa anak SD yang akan kita didik. Pemahaman yang tepat terhadap anak SD akan membantu memudahkan dalam pembelajaran HAM. Artinya, materi HAM yang diajarkan sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak SD sehingga mudah dipahami oleh anak. Secara fisik, anak usia SD masih memasuki tahap perkembangan yang sangat pesat. Berbagai otot dan tulang mengalami penguatan sehingga anak cenderung aktif dalam melakukan kegiatan fisik seperti bergerak, berlari, dan tidak pernah diam di tempat.  Kebutuhan untuk melakukan aktivitas fisik anak SD perlu dipenuhi agar anak berkembang dengan baik. 
Secara moral, perkembangan manusia berjalan secara  bertahap.  Menurut  Kolhberg, moralitas manusia tumbuh melalui tiga tingkatan. Pertama, tingkat prakonvensional. Pada tingkatan  ini, moral anak memiliki dua tahap: tahap pertama berupa kepatuhan berdasarkan hukuman dan ganjaran; tahap kedua perbuatan moral anak diorientasikan pada kepentingan individu yang bersifat instrumental hedonistik. Kedua, tingkat konvensional. Seiring dengan tambahnya usia anak, moral anak berkembang ke arah konvensional. Pada tingkat  ini juga memiliki dua tahap yaitu tahap orientasi konformitas interpersonal dan orientasi pada hukum dan aturan. Ketiga, tingkat pasca konvensional perkembangan moral manusia berada pada tahap orientasi kontrak sosial dan tahap orientasi etis universal.  Anak usia SD cenderung berada pada tahap perkembangan moral konvensional. Artinya anak-anak SD akan melakukan suatu perbuatan yang baik sesuai dengan konformitas hubungan interpersonal yang akrab dan intensif. Di samping itu, anak SD akan berbuat baik manakala sesuai dengan hukum dan aturan yang sudah ada dan bukan kesadaran etik universal (Satibi, 2006).
Secara kognitif, pemikiran anak SD sedang mengalami pertumbuhan sangat cepat. Menurut Jean Piaget perkembangan kognitif manusia berjalan melalui tahapan sebagai berikut: (a) sensomotorik yaitu   anak usia 0-2 tahun mengetahui segala sesuatu melalui penginderaan terhadap benda-benda yang bergerak, (b) pra operasional yaitu anak usia 2-4 tahun memperoleh pengetahuan melalui benda-benda konkrit tetapi belum mampu mengoperasikannya, (c) operasional konkrit yaitu anak usia 4-6 tahun memiliki pengetahuan melalui kegiatan mengoperasikan benda-benda konkrit,  (d) operasional formal yaitu anak usia 6 tahun ke atas sudah mulai belajar berpikir abstrak. Pada usia  6 tahun ke atas ini,  anak sudah mengenal simbol-simbol abstrak. Namun demikian, pembelajaran dengan menggunakan referensi benda konkrit masih sangat membantu anak memahami simbol-simbol abstrak tersebut. Untuk itu diperlukan kemampuan guru dalam menerjemahkan materi HAM yang abtrak menjadi materi yang konkrit dan mudah dipahami.
 Perkembangan sosial anak SD berada pada tahap kesadaran kolektif yang ditentukan oleh faktor-faktor dalam diri anak dan di luar diri anak. Faktor dari dalam diri anak berupa kondisi internal anak baik fisik, kognitif, sosial emosi, moral, dan spiritual anak. Faktor di luar diri anak adalah lingkungan anak baik lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.


 Pendekatan Pembelajaran HAM di SD

Berdasarkan perkembangan anak, pendekatan pembelajaran dapat ditentukan. Pendekatan tersebut disesuaikan dengan tahap-tahap pertumbuhan anak. Pembelajaran HAM di SD bukan saja menyampaikan materi tentang nilai-nilai HAM tetapi pembelajarannya sendiri harus sesuai dan dijiwai dengan HAM. Jika tidak, maka anak akan mengalami suatu keadaan paradoksal atau inkonsistensi yaitu bagaimana ia dapat memahami materi HAM yang diterima ketika pembelajarannya sendiri melanggar HAM?
Pendidikan mengandung unsur-unsur HAM dan demokrasi. Mendidik anak akan mengembangkan inteligensi dan karakternya. Hal ini tidak akan terjadi manakala anak hanya belajar secara tekstual dalam buku dan ditentukan oleh guru. Individu hanya akan terdidik dan memiliki kesadaran tentang HAM ketika ia memiliki kesempatan untuk mengalami sendiri HAM dan menyumbangkan sesuatu yang berguna dari pengalamannya tersebut. Misalnya, anak diajak secara langsung ikut membersihkan lingkungan sekolah. Pengalaman ini akan memberikan pengalaman pada anak bahwa ia telah membantu menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.
Berbagai pendekatan dapat digunakan dalam pembelajaran HAM di SD. Pendekatan tersebut antara lain adalah sebagai berikut.
1.
 Pendekatan induktif yaitu suatu pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran  dengan dimulai dari contoh-contoh, peristiwa-peristiwa, kasus-kasus dan fenomena sejenis untuk ditarik kesimpulan umum. 
2.
 Pendekatan deduktif dimulai dari konsep umum menuju penarikan kesimpulan khusus.
3.
 Pendekatan kontekstual yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang digunakan guru sesuai dengan konteks kehidupan sehari-hari anak. Pembelajaran kontekstual tersebut memudahkan anak memaknai nilai-nilai HAM yang dipelajarinya.
4.
 Pendekatan kooperatif (cooperative learning) yaitu pendekatan pembelajaran dengan memberikan kesempatan pada anak untuk bekerja sama dalam belajar. Misalnya, belajar kelompok, belajar dengan model Jigsaw, diskusi kelompok, dan tugas kelompok.
5.
 Pendekatan inquiry yaitu pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan ksempatan pada anak untuk mencari penyelesaian sendiri terhadap masalah yang dihadapinya. Anak belajar mengamati fenomena, menemukan masalah, dan menyelidiki kemungkinan-kemungkinan penyelesaian masalah  sendiri.
6.
 Pendekatan discovery yaitu pendekatan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa menjelajah untuk menemukan sesuatu yang sudah ada. 
7.
 Pendekatan konstruktivistik yaitu suatu pendekatan yang  memberikan kesempatan kepada anak untuk menyusun sendiri konsep-konsep HAM berdasarkan kehidupan sehari-hari anak.
8.
 Pendekatan behavioristik dengan menciptakan lingkungan yang kondusif anak belajar HAM.
Strategi yang digunakan berdasarkan pendekatan tersebut adalah: (a) siswa belajar secara aktif; (b) siswa membangun peta konsep sendiri; (c) siswa mampu menggali informasi dari berbagai media dan sumber belajar; (d) siswa membandingkan dan mensintesiskan informasi; (e) siswa mengamati secara aktif; (f) siswa menganalisis sebab akibat; (g) siswa melakukan kerja praktik artinya melakukan aktivitas  praktis di dalam belajar HAM.


Prinsip-Prinsip Pembelajaran HAM di SD

Sesuai dengan hakikat anak SD dan pendekatan pembelajaran, maka prinsip yang digunakan dalam pembelajaran HAM dikembangkan sesuai dengan karakteristik belajar anak. Pertama, anak SD belajar secara konkrit sehingga pembelajaran HAM diupayakan secara konrkit pula. Implikasi dari prinsip ini maka pembelajaran HAM bagi anak SD menuntut guru untuk selalu menggunakan media dan sumber pembelajaran yang bersifat konkrit dan dapat ditangkap secara inderawi. Media dan sumber pembelajaran yang dimaksud dapat berupa media dan sumber pembelajaran yang dirancang dan tidak dirancang untuk pembelajaran. Media dan sumber yang direncanakan adalah media dan sumber yang memang dengan sengaja dibuat untuk kepentingan pembelajaran. Sedangkan media dan sumber pembelajaran yang tidak direncanakan adalah segala sumber yang memang tidak disengaja untuk kepentingan pembelajaran. Misalnya jalan raya, pasar, stasiun, dan terminal.  Media dapat juga yang bersifat alami dan buatan. 
Kedua, pembelajaran HAM menggunakan prinsip bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain. Bermain akan membuat anak berinteraksi dan belajar menghargai hak orang lain. Pola bermain dapat dibedakan menjadi tiga: (a) bermain bebas, (b) bermain dengan bimbingan, dan (c) bermain dengan diarahkan (Sumiarti Padmonodewo, 1995). Bermain bebas adalah suatu bentuk kegiatan bermain yang memberikan kebebasan kepada anak untuk melakukan berbagai pilihan alat dan menggunakannya. Bermain dengan bimbingan  adalah suatu kegiatan bermain dengan cara guru memilihkan alat-alat permainan dan anak diharapkan dapat menemukan  pengertian tertentu. Bermain dengan diarahkan adalah suatu bentuk permainan dengan guru mengajarkan cara menyelesaikan tugas tertentu. Bermain dapat menggunakan alat permainan ataupun tanpa alat permainan. Berbagai permainan dapat digunakan di dalam pembelajaran HAM.

 
Gambar 6.1 Bentuk Interaksi Anak

Dari gambar 6.1 dapat diketahui bahwa  anak bukan saja aktif  mengejar bola sehingga otot dan fisiknya akan tumbuh dengan kuat. Ekspresi wajah dengan sungguh-sunguh sekuat tenaga mengejar bola bersaing dalam memperebutkan bola. Anak belajar berinteraksi dengan orang lain, bekerja sama, menghargai aturan dan lain sebagainya. Anak mulai belajar mengenal nilai-nilai  hak asasi, hak dan kewajiban, demokrasi, kebebasan,  kerja sama dan lain sebagainya. Di dalam permainan ada aturan, pemain, wasit (penegak aturan), dan ada atau tidak ada penonton. Semua komponen permainan tersebut harus berfungsi di dalam permainan. Para pemain harus taat aturan, penegak aturan harus objektif dan adil, para pemain yang melanggar aturan akan dikenai sanksi yang diberikan penegak aturan.
Ketiga, pembelajaran HAM di SD menggunakan prinsip active learning. Pembelajaran aktif memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada anak untuk aktif mencari dan memaknai nilai-nilai HAM. Seluruh anggota tubuh dan psikologis anak bekerja  baik melalui belajar individual maupun bekerja sama dalam kelompok. Problem solving akan memberikan tantangan pada anak untuk aktif menyelesaikan masalah tersebut.
Keempat, pembelajaran HAM di SD dilaksanakan dalam suasana  yang menyenangkan. Joyfull learning akan sangat menyenangkan dan membuat belajar anak menjadi ceria, tanpa tekanan, dan menarik.  Guru dapat membuat pembelajaran menjadi menyenangkan dengan memberikan sentuhan akrab, ramah, sambil bernyanyi, dengan gambar, dan lain sebagainya. 
Kelima, pembelajaram HAM di SD berpusat pada anak. Artinya anak menjadi subjek pelaku yang aktif di dalam belajar. Guru hanya berperan sebagai fasilitator dalam membantu anak mudah mempelajari nilai-nilai HAM. Pembelajaran HAM perlu mempertimbangkan aspek kemampuan dan potensi anak, suasana psikologis dan moral anak.
Keenam, pembelajaran HAM di SD memberikan kesempatan kepada anak untuk mengalami, bukan saja melihat atau mendengar melainkan seluruh panca inderanya dan mental psikologis anak aktif mengalami sendiri dalam kegiatan yang memuat nilai-nilai HAM. Pembelajaran HAM memberikan kesempatan seluas-luasnya pada anak untuk bereksperimen (mencoba) mengalami berbagai kegiatan pembelajaran HAM.
Pembelajaran HAM di SD dapat mengembangkan keterampilan  sosial, kognitif, emosional serta spiritual. Multiple intelligence dapat ditumbuhkembangkan dalam pembelajaran HAM sehingga pembelajaran tersebut akan lebih bermakna bagi kehidupan anak.

Materi Pembelajaran HAM di SD

Materi HAM di SD dikembangkan sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak. Materi tersebut disajikan secara menarik dalam bentuk yang mudah dipahami oleh anak. Kalimat yang digunakan sederhana, lugas, dan jelas. Kalau perlu materi disertai gambar dan ilustrasi menarik dan menyenangkan. Unsur problematik dalam materi HAM juga akan membuat sajian materi tidak monoton dan menjemukan, tetapi menantang penalaran kritis anak. Supaya memiliki kebermaknaan pada anak, materi HAM diangkat dari realitas kehidupan anak sehari-hari. Dengan demikian materi yang dikembangkan disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan anak.
Materi HAM dikembangkan dari kurikulum. Guru dapat memulai dengan menganalisis substansi materi kajian dari kurikulum. Substansi materi kajian dijabarkan dari standar kompetensi dan kompetensi dasar.  Misalnya standar kompetensi kelas II SD semester 2 berbunyi: menampilkan sikap demokratis. Kompetensi dasar yang akan dicapai adalah mengenal kegiatan bermusyawarah. Materi pokok yang dikembangkan adalah (a)  kebebasan berpendapat dengan alasan yang masuk akal, (b) menghargai pendapat yang berbeda, (c) kesempatan yang sama dalam mengemukakan pendapat, (d) persoalan yang dibicarakan dalam musyawarah adalah masalah bersama, (e) keuntungan semua pihak.
Materi HAM diberikan di SD dapat berdiri sendiri (separated) dan terpisah dari mata pelajaran lain dan dapat pula terintegrasi dengan mata pelajaran lain yang sudah ada. Jika materi HAM diberikan tersendiri dan menjadi mata pelajaran tersendiri maka akan terjadi penambahan mata pelajaran lain. Hal ini akan menambah beban mata pelajaran bagi anak dan di luar kemampuan anak. Pilihannya lebih baik diupayakan terintegrasi pada mata pelajaran lain sehingga setiap mata pelajaran yang dipelajari anak akan lebih bermakna. Bukankah pendidikan di SD lebih ditekankan pada pembentukan kepribadian manusia yang utuh?

 Media dan Sumber Pembelajaran HAM 

Seperti sudah Anda ketahui bahwa tingkat perkembangan kognitif anak SD lebih condong pada berpikir operasional konkrit. Implikasinya pembelajaran yang diberikan di SD harus bersifat konkrit dan mudah dipahami. Artinya dalam pembelajaran membutuhkan referensi benda-benda konkrit agar  anak mudah memahami materi yang dipelajarinya. Untuk itu penggunaan media dan sumber pembelajaran penting dan mutlak untuk dilakukan.
Media pembelajaran dapat bersifat alami dan buatan. Media alami adalah semua benda atau aktivitas yang ada di alam sekitar yang dapat digunakan dalam pembelajaran. Kehidupan sehari-hari di lingkungan anak dapat dimanfaatkan menjadi materi menarik. Misalnya perilaku pemakai jalan, antrian di kantor pos, dan perilaku pedagang di pasar. Media buatan adalah media yang sengaja dibuat untuk membantu pembelajaran di SD. Media yang digunakan di SD fungsinya untuk:
1.
 membantu memudahkan pemahaman anak terhadap materi HAM,
2.
 materi HAM menjadi menarik dan menyenangkan,
3.
 materi abstrak dengan alat bantu media dapat menjadi lebih konkrit sehingga mudah dipahami,
4.
 menimbulkan imajinasi anak dalam belajar,
5.
 menimbulkan daya kritis anak dalam mempelajari materi, dan
6.
 menumbuhkan kreativitas berpikir anak.
Bagaimana pengelolaan media dalam pembelajaran HAM di SD? Media pembelajaran dikelola dengan cara: (a) pengadaan   media melalui pembuatan sendiri, pembelian, dan hibah dari pihak lain,  (b) penyimpanan dan pemeliharan media harus dilakukan dengan baik, dan (c) pemanfaatan media dalam pembelajaran.
Pemanfaatan media pembelajaran perlu mempertimbangkan beberapa hal penting berikut: (a) media yang digunakan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan  anak, (b) media yang digunakan sesuai dengan kompetensi dasar yang akan dicapai, (c) sesuai dengan pesan atau materi yang akan disampaikan pada anak, (d) media yang digunakan sesuai dengan metode atau strategi pembelajaran yang dilakukan (Anderson 1983), (e) sesuai dengan kemampuan guru dalam menggunakannya, (f) sesuai dengan potensi sekolah.



Perencanaan Pembelajaran HAM di SD

Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran HAM di SD sangat ditentukan oleh perencanaan yang baik. Perencanaan tersebut akan membantu guru untuk melaksanakan langkah-langkah pembelajaran secara sistematik. Langkah-langkah penyusunan perencanaan pembelajaran  adalah sebagai berikut.
1.
 Menganalisis substansi kajian kurikulum. Melalui analisis dapat diketahui bahwa materi pokok HAM yang terintegrasi di dalam mata pelajaran sebagaimana termuat di kurikulum dapat diketahui.
2.
 Hasil analisis kajian itu kemudian dimuat di dalam silabus yang dikembangkan. Silabus tersebut berupa rencana kegiatan pembelajaran secara sistematis yang memuat materi pokok, media, dan evaluasi serta alokasi waktu yang akan dilaksanakan di dalam pembelajaran.
3.
 Pengembangan silabus disesuaikan dengan potensi anak, sarana dan prasarana sekolah, serta kemampuan guru. Di dalam silabus kita dapat merencanakan pembelajaran yang akan memberikan pengalaman belajar HAM yang sesuai dengan kurikulum dan potensi anak. Silabus adalah suatu rencana yang memuat pokok-pokok pengalaman belajar yang akan diperoleh anak dalam pembelajaran. Format silabus yang dikembangkan sangat bergantung pada guru, dan tidak ada yang sama.
4.
 Berdasarkan silabus dapat dikembangkan rencana pembelajaran (RP). Rencana pembelajaran adalah seperangkat langkah-langkah pembelajaran yang harus diikuti guru dalam membelajarkan anak.
5.
 Perencanaan pembelajaran   HAM di SD  dikembangkan berdasarkan: 
a.
 pembelajaran sesuai dengan standar kompetensi dan komptensi dasar yang akan dicapai,
b.
 berpusat pada anak, 
c.
 pembelajaran memperhatikan pertumbuhan dan kebutuhan anak SD,
d.
 pembelajaran menghargai dan memberdayakan hak anak,
e.
 mampu mengembangkan seluruh potensi anak,
f.
 mengembangkan active learning,
g.
 mendorong berpikir kritis dan kreatif anak,
h.
 sesuai dengan potensi sekolah dan guru, dan
i.
 memungkinkan anak dapat mengakses sumber belajar yang ada.
6.
 Perencanaan pembelajaran (RP) memuat bagian-bagian pokok:
a.
 identitas matakuliah
b.
 standar kompetensi
c.
 kompetensi dasar
d.
 langkah-langkah pembelajaran:
1)
 kegiatan awal
2)
 kegiatan inti
3)
 kegiatan akhir
e.
 media dan sumber pembelajaran
f.
 evaluasi pembelajaran:
1)
 jenis evaluasi
2)
 prosedur evaluasi


Contoh Rencana Pembelajaran  

Guru tahu persis karateristik anak kelas IV, sehingga mengembangkan RP berdasarkan karakteristik anak. Salah satu contoh RP yang di dalamnya digunakan    model Jigsaw untuk menanamkan pemahaman multikultural. Materi yang dikembangkan memuat dasar-dasar HAM bagi anak. Durasi pembelajaran direncanakan selama 2 x 40 menit. Kegiatan awal: (1) guru membuka pelajaran dan mengelompokkan siswa sesuai dengan keahlian  berdasarkan problem yang dibahas, (2) setiap siswa   dalam beberapa kelompok memperoleh LKS yang memuat problem. Setelah kegiatan awal selesai dilakukan, guru memasuki kegiatan inti.
 Kegiatan inti meliputi: (1) Tiap kelompok belajar membahas satu problem keanekaragaman budaya : peta daerah, makanan tradsional, tari tradisional, pakaian adat, bahasa daerah, lagu daerah, (2) setelah masing-masing kelompok selesai membahas  satu problem, maka tiap anggota kelompok kembali ke kelompoknya semula. Masing-masing individu menjadi nara sumber bagi anggota dalam kelompoknya., (3) guru meminta siswa untuk menuliskan semua hasil diskusi kelompoknya, (4) setelah diskusi kelompok tahap kedua selesai, tiap siswa ditanyai satu persatu atau diberikan tes tentang materi yang didiskusikan. Akhirnya semua siswa mengetahui semua materi yang diajarkan melalui interaksi antarindividu dalam kelompok belajar.
Kegiatan akhir: kegiatan akhir ditutup dengan cara guru bersama siswa menyimpulkan sikap menghargai keanekaragaman suku dan budaya masyarakat setempat. Media dan alat yang digunakan adalah: (1) peta, (2) gambar, (3) LKS,      (4) pakaian adat Madura, (5) gambar pakaian  adat, (6) makanan dan minuman daerah.  Evaluasi Pembelajaran dilakukan dengan: (1) tes tertulis, (2) performansi, (3) produk berupa LKS.

Latihan

Setelah Anda selesai membaca materi tersebut, silakan memperdalam lebih lanjut dengan menjawab soal-soal latihan di bawah ini.
1.
 Jelaskan hakikat anak SD di sekolah  Anda!
2.
 Sebutkan pendekatan yang dapat digunakan dalam pembelajaran HAM di SD?
3.
 Jelaskan prinsip-prinsip pembelajaran HAM di SD?
4.
 Buatlah media pembelajaran HAM di SD Anda!
5.
 Buatlah rencana pembelajaran HAM terintegrasi di SD!



Rangkuman

Hakikat anak SD mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Perkembangan   anak SD   ditentukan oleh faktor-faktor dalam diri anak dan di luar diri anak. Faktor dari dalam diri anak berupa kondisi internal anak baik fisik, kognitif, social,  emosi, moral, dan spiritual anak. Faktor di luar diri anak adalah lingkungan anak baik lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Pendekatan induktif yaitu suatu pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran  dengan dimulai dari contoh-contoh, peristiwa-peristiwa, kasus-kasus dan fenomena sejenis untuk ditarik kesimpulan umum. Pendekatan deduktif dimulai dari konsep umum menuju penarikan kesimpulan khusus. Pendekatan kontekstual yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang digunakan guru sesuai dengan konteks kehidupan sehari-hari anak. Pembelajaran kontekstual tersebut memudahkan anak memaknai nilai-nilai HAM yang dipelajarinya. Pendekatan kooperatif (cooperative learning) yaitu pendekatan pembelajaran dengan memberikan kesempatan pada anak untuk bekerjasama dalam belajar. Misalnya, belajar kelompok, belajar dengan model Jigsaw, diskusi kelompok, dan tugas kelompok. Pendekatan inquiry yaitu pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan ksempatan pada anak untuk mencari penyelesaian sendiri terhadap masalah yang dihadapinya. Anak belajar mengamati fenomena, menemukan masalah, dan menyelidiki kemungkinan-kemungkinan penyelesaian masalah  sendiri. Pendekatan discovery yaitu pendekatan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa menjelajah untuk menemukan sesuatu yang sudah ada  pendekatan konstruktivistik yaitu suatu pendekatan yang  memberikan kesempatan menyusun sendiri konsep-konsep HAM berdasarkan kehidupan sehari-hari anak. Pendekatan behavioristik dengan menciptakan lingkungan yang kondusif anak belajar HAM.
Materi HAM diberikan di SD dapat berdiri sendiri (separated) dan terpisah dan dapat pula terintegrasi dengan mata pelajaran lain yang sudah ada. Jika materi HAM diberikan tersendiri dan menjadi mata pelajaran tersendiri maka akan terjadi penambahan mata pelajaran lain. Hal ini akan menambah beban mata pelajaran bagi anak dan di luar kemampuan anak. Pilihannya lebih baik diupayakan terintegrasi pada mata pelajaran lain sehingga setiap mata pelajaran yang dipelajari anak akan lebih bermakna. Bukankah pendidikan di SD lebih ditekankan pada pembentukan kepribadian manusia yang utuh? 
Prinsip pembelajaran HAM di SD: (a) sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak, (b) sesuai dengan kompetensi yang diharapkan, (c) mengaktifkan anak, (d) membuat anak berpikir kreatif dan kritis, (e) menarik dan menyenangkan, (f) berpusat pada anak, (g) bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain.
Kriteria pembuatan media: (a) kesesuaian media dengan kompetensi dasar, (b) kemenarikan, (c) kerapian, (d) keamanan bagi anak, (e) keawetan media, (f) kemudahan dalam penggunaan media, (g) kesesuaian dengan materi HAM di SD.
Rencana Pembelajaran HAM dapat disusun guru sesuai dengan potensi sekolah. Rambu penyusunan rencana pembelajaran tersebut adalah sebagai berikut:
1)
 identitas mata pelajaran,
2)
 standar kompetensi,
3)
 kompetensi dasar, 
4)
 langkah-langkah pembelajaran:
a.
 kegiatan awal
b.
 kegiatan inti
c.
 kegiatan akhir
5)
 media dan sumber pembelajaran, dan
6)
 evaluasi pembelajaran:
a.
 jenis evaluasi
b.
 prosedur evaluasi


Tes Formatif 1

1. Mengapa pembelajaran HAM di SD harus disesuaikan dengan hakikat anak SD?
2. Mengapa media dibutuhkan dalam pembelajaran HAM di SD?
3. Mengapa materi pembelajaran HAM di SD cenderung lebih cocok terintegrasi dengan mata pelajaran lain?
4. Mengapa pembelajaran HAM dilaksanakan dengan bermain sambil belajar, dan belajar seraya bermain?
5. Apa yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan media pembelajaaran HAM di SD?

Petunjuk dan Rambu Jawaban Latihan

Cocokkan jawaban soal latihan Anda dengan rambu-rambu jawaban di bawah ini!
1.
 Hakikat anak SD dilihat dari segi fisik sedang mengalami pertumbuhan aktif dan  pesat, berpikir konkrit, perkembangan moralnya masih konvensional, interaksi sosial sangat intensif dan spiritual anak masih berada pada kepercayaan terhadap Tuhan secara instrumental egois.
2.
 Pendekatan pembelajaran HAM di SD yaitu (a)   induktif, (b) deduktif, (c) kontekstual, (d) kooperatif, (e) inquiry, (f) discovery, (g) konstruktivistik, (h) behavioristik.
3.
 Prinsip pembelajaran HAM di SD: (a) sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan anak, (b) sesuai kompetensi yang diharapkan, (c) mengaktifkan anak, (d) membuat anak berpikir kreatif dan kritis, (e) menarik dan menyenangkan, (f) berpusat pada anak, (g) bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain.
4.
 Kriteria pembuatan media: (a) kesesuaian media dengan kompetensi dasar, (b) kemenarikan, (c) kerapian, (d) keamanan bagi anak, (e) keawetan media, (f) kemudahan dalam penggunaan media, (g) kesesuaian dengan materi HAM di SD.
5.
 Rencana Pembelajaran:
a)
 identitas mata pelajaran,
b)
 standar kompetensi,
c)
 kompetensi dasar,
d)
 langkah-langkah pembelajaran:
2)
 kegiatan awal
3)
 kegiatan inti
4)
 kegiatan akhir
e)
 media dan sumber pembelajaran, dan
f)
 evaluasi pembelajaran:
1)
 jenis evaluasi
2)
 prosedur evaluasi





Kriteria Penilaian dan Tindak Lanjut

Tingkat ketuntasan anda dalam mempelajari subunit ini diukur dari 80 % materi telah dikuasai. Bila anda belum mencapai skor tersebut, harap mempelajari kembali materi tersebut. Jika sudah tuntas, silakan dilanjutkan ke subunit berikutnya. Setiap nomor soal yang benar diberikan skor 1-10 dan  dijumlah. Skor nilai akhir diukur dari:

Jumlah skor jawaban Anda         =   Hasilnya dikalikan 20
  10


Standar ketuntasan dapat dilihat sebagai berikut:

90 – 100 sangat baik
80 -  89  baik
70 -  79  cukup baik
60 -  69  kurang
     -  59  sangat kurang





Subunit 2

Pelaksanaan HAM di Sekolah Dasar


Pada subunit 1 sebelumnya, Anda telah mempelajari tentang perencanaan pembelajaran HAM di SD. Pada subunit 2 ini Anda dapat membaca hasil  pelaksanaan pembelajaran HAM tersebut. Setelah itu,  silakan Anda mempraktikkan pembelajaran HAM di kelas. Ketika Anda praktik mengajar di kelas, ajaklah teman kolega Anda untuk mengobservasi pelaksanaan pembelajaran HAM yang Anda lakukan.  Tujuan mempelajari materi ini diharapkan Anda dapat:
1.
 melaksanakan kegiatan awal pembelajaran HAM di SD,
2.
 melaksanakan kegiatan inti pembelajaran HAM di SD, dan
3.
 melaksanakan kegiatan penutup pembelajaran HAM SD.


Pelaksanaan HAM di SD

Pembelajaran HAM di SD terintegrasikan di dalam berbagai mata pelajaran. Tidak ada mata pelajaran khusus yang mempelajari tentang HAM di SD. Sekalipun demikian, guru perlu memiliki pengetahuan tentang implementasi HAM dalam pembelajaran di SD. Pengetahuan tersebut kemudian dimplementasikan ke dalam berbagai tindak pembelajaran. Pembelajaran tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip pembelajaran di SD berikut ini.
1.
 Pembelajaran sesuai dengan standar kompetensi dan komptensi dasar yang akan dicapai.
2.
 Pembelajaran memperhatikan pertumbuhan dan kebutuhan anak SD.
3.
 Pembelajaran menghargai dan memberdayakan hak anak.
4.
 Pembelajaran mampu menumbuhkan aktivitas dan kreativitas anak.
5.
 Pembelajaran menumbuhkan suasana menyenangkan dalam belajar.
6.
 Pembelajaran mampu mengembangkan seluruh potensi anak.
7.
 Pembelajaran sesuai dengan potensi sekolah dan guru.
8.
 Pembelajaran memungkinkan anak dapat mengakses sumber belajar yang ada di sekitar anak.

Sebelum menyusun RP perlu disusun silabus terlebih dahulu dengan baik. Tidak ada format baku dalam penyusunan silabus. Salah satu format yang dipakai adalah sebagai berikut:Format Silabus Pembelajaran HAM di SD
SD   : ..................................
Kelas   : ..................................
Semester  : .................................
Standar Kompetensi : .................................
Kompetensi Dasar
Materi Sajian
Teknik Penyajian
Indikator
Penilaian
Alokasi Waktu
Sumber Bahan






















Berikut ini Anda dapat menyimak salah satu bentuk pengembangan pembelajaran yang mengintegrasikan HAM dalam pembelajaran. Pembelajaran HAM dimaksud terintegrasi pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan SD, Kelas IV, Semester I , Materi Pokok Keanekaragaman Budaya dan Masayarakat Setempat, waktunya 2 x 40 menit atau dua jam pelajaran, dan diikuti oleh   46 siswa.
 Ketika pukul tujuh tepat dan anak-anak masih bermain di luar, bel tanda masuk kelas berbunyi, secara hampir serentak dan bersamaan mereka masuk kelas. Suasana gembira tampak di wajah mereka untuk memulai pelajaran. Tidak berselang lama, guru datang ke kelas dan mengucapkan salam, “selamat pagi anak-anak”. Secara bersamaan mereka menjawab, “selamat pagi bu guru …” Begitu anak-anak selesai menjawab salam, dilanjutkan dengan ucapan guru “anak-anak, sebelum pelajaran kita mulai, ayo berdoa dulu, silakan salah satu maju ke depan untuk memimpin doa”. Salah seorang anak kemudian maju ke depan kelas untuk memimpin doa bersama. 
Selesai berdoa, guru memulai pelajaran “anak-anak, hari ini kita masih ditemani bu guru   untuk melanjutkan pelajaran minggu lalu tentang  keanekaragaman budaya bangsa dan masyarakat di Jawa Timur. Kalian masih belajar dengan cara berkelompok”. Anak-anak kemudian segera berdiri, mengambil tas sekolah dan mencari tempat duduk sesuai dengan kelompok masing-masing  yang sudah ditetapkan. Setelah anak menemukan tempat duduk masing-masing, guru membagikan LKS dan media sekaligus sumber belajarnya. “Anak-anak, bu guru akan membagikan LKS dan berbagai macam kekayaan budaya Jawa Timur. Tiap kelompok akan mengamati satu macam budaya Jawa Timur, ada kelompok yang mengamati peta untuk menemukan  potensi alam dan wisata di Jawa Timur, ada yang mempelajari adat istiadat, ada juga yang mempelajari makanan khas, dan ada pula yang mempelajari bahasa daerah yang digunakan di Jawa Timur”. Di samping membagikan peta dan gambar pakaian adat pada tiap kelompok, guru juga membagikan makanan dan minuman khas Jawa Timur, seperti minuman sari  apel Batu, suwar-suwir yang terbuat dari tape khas Jember, tape Bondowoso, sale pisang, kelepon khas Gempol Pasuruan. Beberapa makanan khas Jawa Timur itu dapat dilihat pada gambar 6.1. di bawah ini.

Gambar 6.1. Makanan khas Jawa Timur

 Begitu berbagai media tersebut dibagikan anak-anak berdiri menyambutnya, “ooh enake, ana sari apel, kelepon, tape, iku apa ya sing dibungkus warnane abang ijo, lan rada ireng neng plastik” (oh enaknya, ada sari apel, kelepon, tape, itu apa   yang dibungkus warnanya merah hijau, dan agak hitam di dalam plastik). Ketika satu kelompok menerima makanan itu, anak-anak kelompok lain mendekati guru, “bu kami nanti diberi tidak?”. Bu guru menjawab, anak-anak, kalian semua nanti akan mendapat dan merasakan berbagai makanan khas Jawa Timur itu”. Anak-anak menyambutnya dengan bersorak “horee awake dhewe uga oleh” (horee, kita juga dapat). Mereka kemudian kembali ke kelompoknya untuk menerima LKS dan gambar serta media yang lain. 
 Suasana belajar anak di kelas dengan berbagai media itu tampak ramai dan anak  mulai mencoba meminum sari apel, sesekali berdiri dan mengambil kelepon, suwar-suwir, sale, dan tape untuk dicicipi. Ketika mencicipi berbagai makanan  khas Jawa Timur itu, tampak mulutnya bergerak-gerak dan wajahnya mengamati makanan itu seraya tangan memegang makanan dan sorot mata lekat pada makanan seakan membayangkan dan penuh pertanyaan, “iki apa ya” (apa makanan ini ya?). Sesekali di antara mereka menoleh ke arah temannya sambil mulutnya bergerak mengunyah makanan, “rek iki luueegi” (makanan ini sangat manis) untuk menunjukkan rasa makanan suwar-suwir.  Ada anak laki-laki berdiri   tertawa kelihatan giginya memperhatikan teman yang sedang menikmati makanan dan minuman, sementara ada dua anak perempuan minum bersama “sari apel”, dan seorang anak perempuan  berdiri sambil tertawa ketika mencicipi makanan, sekan-akan mereka sedang bergembira. Suasana gembira itu tampak pada gambar 6.2. di bawah ini.














Gambar 6.2. Suasana gembira ketika anak diskusi 
 
  Seorang anak  berdiri dan mendekat bu guru, “bu guru, makanan apa ini, dari mana asalnya?” Bu guru kemudian menjawab, “lihat di bungkusnya, kamu akan menemukan tulisan makanan itu”. Anak itu kemudian duduk kembali dan mengambil bungkus makanan itu, “ooo, suwar-suwir dari Jember” diteruskan menulis jawabannya di LKS. Setelah selesai mencicipi makanan dan minuman satu persatu , mereka kemudian menuliskan hasil obeservasinya di LKS  itu.  
 Kelompok lain mengamati peta Jawa Timur untuk menemukan lokasi tempat wisata   dan potensi alamnya.  Peta Jawa Timur  selebar 90 sentimeter kali 60 sentimeter  di atas meja itu dikerumuni oleh anak-anak. Ada anak yang separo badannya di atas meja dan lutut kaki di atas kursi karena tidak sampai menjangkau peta itu, ada pula yang kemudian menuliskan hasil temuannya. Ada anak yang menarik peta itu, “bu guru, petanya robek… ditarik-tarik Demas”. Bu guru kemudian mendekat dan mengamati peta itu, katanya “petanya diamati bersama ya, jangan ditarik-tarik, akibatnya robek seperti ini, tapi tidak apa-apa hanya robek sedikit”. Guru itu kemudian menunjukkan peta pada anak untuk diamati, sebagaimana dapat dilihat pada gambar 6.3 di bawah ini.













Gambar 6.3. Suasana diskusi kelompok dengan bimbingan guru 



 Tampak ada anak yang sesekali menoleh ke kelompok lain dan diteruskan menuliskan jawaban di LKSnya, dan ada pula yang   mengamati peta sambil setengah badannya membungkuk. Seorang anak lagi  menatap LKS dengan tangan  memegang pena menuliskan jawabannya. Di sudut kanan, anak memperhatikan temannya sambil tersenyum dan ada pula anak yang menatap temannya sambil memegang pena,   sejenak sebelum menuliskan jawaban di LKS, sebagaimana tampak pada gambar 6.4. 



 
 








Gambar 6.4  Suasana Belajar di Kelas

Ketika anak sedang “asyik” diskusi, kelompok lain yang mempelajari adat istiadat, dua anak memeragakan pakaian adat Madura, pakaian putih-putih dan pakaian hitam dikombinasi kaos dalam warna merah horizontal dan dasar putih serta ikat kepala. Tampaknya kedua anak yang memakainya tersebut tersenyum gembira. 

















Gambar 6.5. Anak Gembira  Memakai Pakaian adat Jawa Timur

 Saat   temannya memakai pakaian adat itu, anak-anak berdiri dan tertawa dengan suara yang keras “ha…ha… ha … lucu”. Semua anak menghadap ke belakang tempat anak berdiri memakai pakaian adat itu, sebagaimana tampak pada gambar 6.6 di bawah ini.
















Gambar 6.6. Ketika Anak Memperhatikan  Teman Memakai Pakaian Adat Menarik


 Respon anak ketika melihat temannya memakai pakaian adat Madura bermacam-macam. Ada anak yang berseru, “hi…hi…. seperti penjual sate Madura”. Sementara itu ada anak yang maju mendekati  dan mengamati anak yang memakai pakaian adat dan mencobanya. Rasa ingin tahu anak itu tumbuh ketika hendak mencoba pakaian. Suasana belajar yang tampak menyenangkan anak ketika mereka belajar dari kehidupan sehari-hari di sekitar anak.
 Kegiatan belajar pada kelompok lainnya tampak berbeda. Kelompok itu dapat mempelajari bahasa daerah dengan mengamati peta Jawa Timur. Bahasa daerah yang ditemukan tidak banyak karena memang jumlah bahasa daerah di Jawa Timur tidak banyak. Bahasa daerah itu adalah bahasa Jawa, bahasa Madura, dan bahasa Osing di Banyuwangi. Tetapi anak-anak dapat pula menyebutkan bahasa daerah lain seperti bahasa Bali, bahasa Betawi di Jakarta, bahasa Sunda di Jawa Barat.
 Kelompok lain yang mempelajari adat istiadat dengan mengamati peta dan gambar menemukan jawaban “tindak siti, kasodo, pakaian adat Madura, upacara  adat perkawinan Madura,  upacara tujuh hari kematian seseorang, tujuh bulan kehamilan dan lain sebagainya”. Setelah selesai diskusi kelompok ahli, kelas dikelompokkan kembali berdasarkan hasil diskusi kelompok ahli tersebut. Kelompok antarahli ini kemudian mendiskusikan berbagai problem keanekaragaman bangsa dan budaya daerah Jawa Timur. Hasilnya tampak terjadi pertukaran informasi dari anggota kelompok ahli yang satu dengan kelompok ahli yang lainnya. Pertukaran informasi itu dilakukan dengan cara seorang anak membaca problematik  dan menyebutkan jawabannya, sementara yang lain memperhatikan gambar dan mencatat. 
 Cara lain adalah saling menukarkan lembar kerja masing masing untuk dibaca dan selanjutnya anak yang bersangkutan menuliskan jawabannya. Anak lainnya menulis jawaban, dan beberapa anak yang lain mengerumuni media gambar dan peta yang ada di depannya. Seorang anak berdiri dengan penuh perhatian memperhatikan temannya yang sedang mengerjakan LKSnya, sementara itu di meja terletak minuman sari apel dan makanan khas jawa Timur,  sebagaimana terlihat pada gambar 6.7 di bawah ini.

Gambar 6.7.  Diskusi Kelompok Antar Ahli

 Diskusi kelompok antarahli yang disertai dengan media telah mampu membuat suasana belajar menjadi lebih aktif dan menarik, sebagaimana terlihat pada gambar 6.8. berikut ini.


Gambar 6.8. Suasana Menyenangkan dalam Diskusi Kelompok Antar Ahli
 
 Kegiatan pembelajaran kemudian diakhiri dengan penyimpulan bersama antara siswa dan guru melalui dialog tentang berbagai keanekaragaman budaya bangsa Jawa Timur yang sangat beragam dan kaya. Pembelajaran ditutup dengan pos tes. Hasil pos tes dapat ditunjukkan pada tabel 6.1. sebagai berikut.

No
skor
Frekuensi (f)
Persentase
(%)
1
100
8
          17   %
2
95
13
          29   %
3
90
5
       5,5 %
4
85
13
           29   %
5
80
5
            5,5 %
6
75
2
            4     %
7
70
-
-
8
65
-
-
9
60
-
-

Jumlah
46
100 %


Tabel 6.1. Skor Hasil Post Tes

 Berdasarkan observasi dapat diketahui bahwa pembelajaran ini mampu meningkatkan partisipasi aktif anak. Pemberian media yang menarik dari lingkungan sehari-hari anak ternyata mampu “menghidupkan” pembelajaran. Media sebagai sumber pembelajaran berupa peta, gambar, berbagai makanan dan minuman serta pakaian adat Jawa Timur ternyata mampu memberikan stimulasi pada anak untuk berpikir kreatif. Kemampuan berpikir kreatif ini tampak ketika mereka mampu menyebutkan berbagai potensi budaya masyarakat, khususnya Jawa Timur. Misalnya menyebutkan aneka makanan Jawa Timur mampu mereka sebutkan, seperti rujak cingur, lontong balap, lontong sayur, dan tahu campur. Dari luar Jawa Timur bahkan mampu mereka sebutkan misalnya soto Betawi, soto Makasar, dan telur bumbu Bali. Di samping aktivitas dan kreativitas anak meningkat, suasana   menyenangkan semakin tampak dalam pembelajaran. Perasaan senang dalam mengikuti pembelajaran membuat anak enjoy dan tanpa beban serta suasana tidak lagi menakutkan, menegangkan dan mencemaskan pada anak. Anak dapat dengan bebas mempelajari materi pembelajaran. Hal ini tampak wajah mereka yang gembira ketika sudah selesai belajar, sebagaimana tampak pada gambar 6.9. di bawah ini












Gambar 6. 9. Wajah anak yang gembira ketika sudah selesai belajar


 Cara berpikir, bersikap dan berperilaku menghargai keanekaragaman budaya bangsa dapat ditumbuhkembangkan ketika mereka mengalami sendiri berbagai jenis makanan dan minuman, gambar dan peta sehingga lebih menghayati dan toleran terhadap kebudayaan sendiri.
 Penggunaan peta dan media gambar ternyata mampu meningkatkan pusat perhatian dan ketertarikan anak ketika belajar. Hal ini dapat dilihat pada gambar 6.10. di bawah ini.













Gambar 6.10. Anak serius memperhatikan gambar

 Pemahaman anak terhadap keanekaragaman budaya bangsa dapat ditingkatkan  secara tajam. Hal ini dapat dilihat dari perolehan skor yang rata-rata telah menuntaskan dengan 89, 78 %. Kecakapan hidup anak  semakin berkembang, terutama pada kecakapan berpikir, sosial, dan personal. Kecakapan berpikir tampak pada kemampuan berpikir kreatif untuk menyebutkan alternatif lainnya. Kecakapan sosial tampak ketika mereka berinteraksi dengan temannya dan menghargai pendapat orang lain. Kecakapan personal tampak ketika mereka secara individual mencicipi makanan sehingga indera perasanya makin berkembang. Melalui perasaan itu mereka lebih menghargai aneka budaya sendiri.
 Dari ilustrasi di atas,   Anda dapat mempelajari pembelajaran HAM yang terintegrasi dalam pembelajaran PKn SD. Dari contoh pembelajaran tersebut di atas, Anda rekonstruksi kembali perencanaan pembelajarannya (RP). 

Latihan

 Pada akhir kegiatan membaca unit ini Anda dipersilakan berlatih mempraktikkan pembelajaran HAM yang terintegrasikan dengan mata pelajaran lain. Ketika praktik ajaklah teman Anda untuk mengamati tindakan mendidik Anda dengan instrumen yang telah Anda siapkan.  Tahapan praktik tersebut adalah sebagai berikut:
1.
 Tentukan mata pelajaran yang akan Anda pilih untuk melasanakan praktik pembelajaran HAM terintegrasi.
2.
 Susunlah silabus dan RP beserta kelengkapannya berdasarkan kurikulum satuan tingkat pendidikan (KTSP) sesuai kelas yang Anda pilih.
3.
 Lakukan persiapan dengan menyediakan media dan alat permainan edukatif.
4.
 Ajaklah 3 orang teman Anda untuk mengobservasi tindakan mendidik HAM dalam pembelajaran yang Anda lakukan.
5.
 Diskusikan hasil pelaksanaan pembelajaran HAM terintegrasi tersebut dengan teman Anda. 
6.
 Perbaiki rencana dan pelaksanaan pembelajaran HAM tersebut pada materi pokok lainnya.

Terus berlatih dengan memperhatikan HAM pada mata pelajaran lain. Selamat berlatih!


Rangkuman 

 Tidak ada mata pelajaran khusus yang mempelajari tentang HAM di SD. Sekalipun demikian, guru perlu memiliki pengetahuan tentang implementasi HAM dalam pembelajaran di SD. Pengetahuan tersebut kemudian diimplementasikan ke dalam berbagai tindak pembelajaran. Guru dituntut untuk menguasai proses pembelajaran dari kegiatan awal, inti, maupun akhir. Selain itu guru juga harus bisa menentukan media dan evaluasi yang digunakan sesuai dengan kompetensi.



Tes Formatif 2

Kerjakan soal formatif di bawah ini dan cocokkan jawabannya dengan kunci jawaban!
1.
 Langkah-langkah apa yang harus dilakukan dalam pembelajaran HAM di SD?
2.
 Materi apa yang harus disampaikan dalam pembelajaran HAM di SD?
3.
 Seperti apakah interaksi  dalam pembelajaran HAM di SD?
4.
 Bagaimana evaluasi  yang harus dilakukan guru di dalam pembelajaran HAM di SD?
5.
 Setelah Anda melaksanakan pembelajaran HAM, dan hasilnya belum memuaskan, apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran HAM di kelas?


Petunjuk dan Rambu Jawaban untuk Tugas Latihan

1.
 Mata pelajaran : ...................................................
2.
 Silabus  : sesuai format silabus di teks

 RP  : sesuai format RP di teks
3.
 Alat permainan edukatif sesuai materi dan potensi sekolah praktik.
4.
 Hasil Praktik: tuliskan kejadian pada waktu pembelajaran HAM di SD
a.
 kegiatan awal
b.
 kegiatan inti
c.
 kegiatan akhir
d.
 interaksi guru dan siswa
e.
 interaksi siswa dan siswa
f.
 interaksi siswa dengan sumber belajar
g.
 suasana pembelajaran
h.
 kreativitas siswa
5.
 Hasil diskusi praktik pembelajaran:
a.
 kelebihan pembelajaran HAM di SD
b.
 kekurangan pembelajaran di SD
6.
 Hasil perbaikan rencana pembelajaran (RP) HAM di SD sesuai format yang ada di teks.



Kriteria Penilaian dan Tindak Lanjut

 Tingkat ketuntasan Anda dalam mempelajari subunit ini diukur dari 80 % materi telah dikuasai. Bila Anda belum mencapai skor tersebut, harap mempelajari kembali materi tersebut. Jika sudah tuntas, silakan merpersiapkan untuk ujian akhir semester. Setiap nomor soal yang benar diberikan skor 1-10 dan  dijumlah.   Skor nilai akhir diukur dari:

Jumlah skor jawaban Anda         =   Hasilnya dikalikan 20
  10

Standar ketuntasan dapat dilihat sebagai berikut:
90 – 100 sangat baik
80 -  89  baik
70 -  79  cukup baik
60 -  69  kurang
     -  59  sangat kurang





Kunci Jawaban


Kunci Jawaban Subunit 1

1.
 Pembelajaran HAM di SD harus disesuaikan dengan hakikat anak SD agar materi pembelajaran mudah dipahami dan bermakna bagi kehidupan anak.
2.
 Media dibutuhkan dalam pembelajaran HAM di SD agar (a) pembelajaran sesuai kompetensi yang diharapkan, (b) mengaktifkan anak, (c) membuat anak berpikir kreatif dan kritis, (d) menarik dan menyenangkan,  (e) anak dapat bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain, (f) menumbuhkan imajinasi anak.
3.
 Karena dengan terintegrasi pada mata pelajaran lain maka setiap matapelajaran yang dipelajari anak akan lebih bermakna. Dengan demikian tidak akan menambah beban jumlah matapelajaran sehingga terasa makin berat. Bukankah pendidikan di SD lebih ditekankan pada pembentukan kepribadian manusia yang utuh?
4.
 Pembelajaran HAM menggunakan prinsip bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain. Karena, bermain akan membuat anak akan berinteraksi dan belajar menghargai hak orang lain. Pola bermain dapat dibedakan menjadi tiga: (a) bermain bebas, (b) bermain dengan bimbingan, dan (c) bermain dengan diarahkan.
5.
  Pemanfaatan media pembelajaran perlu mempertimbangkan beberapa hal penting berikut: (a) media yang digunakan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan  anak, (b) media yang digunakan sesuai dengan kompetensi dasar yang akan dicapai, (c) sesuai dengan pesan atau materi yang akan disampaikan pada anak, (d) media yang digunakan sesuai dengan metode atau strategi pembelajaran yang dilakukan, (e) sesuai dengan kemampuan guru dalam menggunakannya, (f) sesuai dengan potensi sekolah.



Kunci Jawaban Subunit 2

1.
 Langkah pembelajaran:
a.
 kegiatan awal
b.
 kegiatan inti
c.
 kegiatan penutup
2.
 Materi kajian yang dijabarkan dari kurikulum (KTSP) yang dapat disampaikan secara terpisah atau terintegrasi dalam pembelajaran matapelajaran lain
3.
 Interaksi yang memberdayakan potensi anak dalam pembelajaran HAM: aktif, kreatif, kerjasama, menyenangkan, mengeksplorasi sumber belajar, menghargai orang lain.
4.
 Evaluasi: tes, portofolio, tugas, produk, dan performansi.
5.
 Evaluasi dan refleksi terhadap pelaksanaan pembelajaran HAM dilakukan dengan memperbaiki:
a.
 rencana pembelajaran,
b.
 materi,
c.
 media dan sumber pembelajaran,
d.
 interaksi pembelajaran, dan
e.
 evaluasi hasil dan proses pembelajaran.



Daftar Pustaka

 
Ahmad Samawi. dkk. 2006. Aku Warga Negaraku, Buku Pengayaan Pendidikan Kewarganegaraan SD. Jakarta: Pusat

Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SD. Jakarta: Ditjen Dikdas.
Joyce, B and Marsha Weill. 1980. Models of Teaching. Prentice Hall

Pedoman Praktik Pembelajaran Tim Peneliti PPkn UM. 2003. Model Pembelajaran PPKn untuk Sekolah Dasar. Malang: Wineka Media.










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar