Animated flag images by 3DFlags.comSEMOGA SEMUA YANG SAYA UPLOAD DI BLOG INI BERGUNA BAGI TEMAN-TEMAN, BLOG INI SEBAGIAN BESAR BERISI TENTANG BAHAN-BAHAN KULIAH SAYA YANG JUGA SAYA GUNAKAN SEBAGAI ARSIP SENDIRI, JADI BANYAK YANG BUKAN TULISAN SAYA SENDIRI... MOHON DIMAKLUMI Animated flag images by 3DFlags.com

Sabtu, 08 Oktober 2011

ANALISIS KESULITAN PERKEMBANGAN DAN BELAJAR PESERTA DIDIK



Pendahuluan

Pada unit 6 ini Anda akan mempelajari teori-teori yang berkaitan dengan analisis kesulitan perkembangan dan belajar peserta didik. Unit ini terdiri dari empat subunit yaitu:
1.
 Prinsip-prinsip belajar;
2.
 Pandangan pakar psikologi tentang belajar;
3.
 Kesulitan dan kegagalan belajar; serta
4.
 Permasalahan belajar ditinjau dari aspek sosial emosional.

Sebagai mahasiswa program PJJ-S1-PGSD, Anda diharapkan mampu mengaplikasikan prinsip-prinsip belajar dalam kegiatan belajar mengajar. Prinsip-prinsip belajar pada subunit 1 perlu diketahui oleh para guru, agar setelah melakukan proses belajar siswa mengalami perubahan  tingkah laku yang relatif menetap. Pada  subunit 2 akan dipaparkan berbagai pandangan psikologis dari para pakar mengenai makna belajar. Pada subunit 3 Anda akan mempelajari berbagai hal yang terkait dengan permasalahan kesulitan belajar. Terakhir, pada subunit 4 Anda akan mengkaji permasalahan-permasalahan belajar yang bukan disebabkan permasalahan akademik melainkan masalah-masalah sosial emosional. 
Melalui keempat subunit tersebut, diharapkan Saudara dapat menganalisis permasalahan belajar di SD dan mampu mencari solusinya. Sebagai guru SD, Anda perlu mendukung para siswa agar mereka berhasil dalam belajar. Permasalahan belajar di SD belum tentu disebabkan oleh IQ yang rendah, tetapi mungkin disebabkan permasalahan lain. Dengan mempelajari empat subunit tersebut diharapkan Anda memiliki kompetensi yang dapat diukur melalui pencapaian indikator dari subunit 1-4.. Semoga Anda dapat menjadi guru SD yang sukses, bukan hanya karena pandai mengajar, melainkan mampu mengilhami siswa SD agar kreatif berprestasi demi sukses masa depan.



Unit 6
Ingat
Contoh:






Subunit 1

Prinsip-Prinsip Belajar
                                                                                                                                                                 
 aparan subunit 1 akan membahas prinsip-prinsip belajar, yang mencakup terminologi dan hakikat prinsip-prinsip belajar sebagai pengantar agar Saudara dapat memperluas wawasan yang terkait dengan konteks materi. Apa yang dimaksud dengan belajar? Belajar adalah suatu proses yang terus menerus, agar terjadi perubahan perilaku. Proses ini bersifat aktif dan diharapkan menjadi bekal yang permanen. Respon dari belajar merupakan alat untuk mengukur kemampuan keberhasilan seseorang. 
Setiap siswa SD dapat belajar melalui penglihatan, pengalaman, dan proses berpikir, agar mampu mengubah perilaku. Sebagai contoh, Anti siswa kelas satu SD berusia 6 tahun 3 bulan, pulang sekolah dengan mata merah. Setiba di rumah Anti langsung memeluk ibunya. Ibunya terkejut dan membalas pelukan Anti. Ibu bertanya ada apa dengan Anti di sekolah? Anti bercerita ia malu diperolokkan teman-teman sekelas, karena tidak dapat mengerjakan soal matematika. Anti merasa malu karena kakaknya Anto sangat pandai Matematika. Anti menjadi sangat sensitif. Ia mengeluh pada ibunya bahwa ia takut pergi kesekolah. Apa yang harus dilakukan ibu untuk memotivasi Anti mau belajar matematika? Untuk membantu ibu Anti marilah kita mengkaji pengertian belajar menurut definisi berikut ini.

1.
 Menurut Edward Walter
Belajar adalah perubahan atau tingkah laku akibat pengalaman dan latihan. Contoh. Anti kesulitan dan ketakutan belajar matematika, padahal kakaknya Anto pAndai belajar matematika. Menurut Edward Walter belajar matematika memerlukan latihan–latihan yang berulang kali. Latihan-latihan yang intensif bagi siswa SD akan lebih mudah mempelajari simbol-simbol matematika. Ungkapan guru SD harus memupuk anak agar mau melatih diri belajar matematika, bukan mengkritik anak dengan komentar negatif. Anak menjadi cemas, bahkan ketakutan belajar matematika.


2.
 Clifford T. Morgan
Menurut Morgan, belajar merupakan perubahan tingkah laku karena hasil pengalaman, sehingga memungkinkan seseorang menghadapi situasi selanjudnya dengan cara yang berbeda-beda. Contoh, apabila Anti ketakutan belajar matematika, maka ia akan menganggap bahwa mata pelajaran matematika sangat sulit. Namun bila Anti belajar matematika dalam situasi yang menyenangkan (kegiatan berupa Games) Anti akan belajar matematika dengan  menyenangkan pula. Belajar sambil bermain akan merubah perilaku seperti yang dialami Anti. Pengalaman mempelajari matematika dengan kegiatan games akan menumbuhkan motivasi belajar.

3.
 Woodword
Pakar ini mengemukakan bahwa belajar merupakan perubahan yang relatif permanen, akibat interaksi lingkungan. Contoh, bila Anti belajar di sekolah dan di rumah dengan berbagai macam media, maka ketakutan Anti untuk belajar matematika akan berkurang. Para guru di sekalah dasar bersama keluarga hendaknya memberi sugesti positif, agar siswa SD berbesar hati membangun keparcayaan diri pada saat mempelajari simbol-simbol matematika.

4.
 Crow & Crow
Menurut Crow & Crow, belajar adalah suatu perubahan dalam diri individu karena kebiasaan, pengetahuan dan sikap. Contoh, pada umumnya anak usia SD yang tinggal di Jakarta, pola belajarnya akan berkembang sesuai dengan kemampuan teknologi Computer Kid yang digunakan. Penggunaan media tersebut dapat berdampak positif untuk memperluas wawasan, pengetahuan, dan  sikap perilaku anak SD. Teknologi modern memperkaya anak sehingga banyak mengalami perubahan dalam proses belajar.

5.
 Menurut pakar-pakar yang lain, belajar merupakan proses memiliki pengetahuan, dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak bisa menjadi bisa. Selain itu, belajar merupakan perubahan secara fisik maupun motorik. Belajar juga merupakan perubahan yang menekannkan aspek-aspek rohani. Contoh, bilamana Anti belajar menari berarti ia memiliki pengetahuan tentang gerak gerik menari, dan secara motorik Anti belajar menari dengan lemah gemulai. Pada saat Anti menari di pentas, Anti merasakan kesenangan batiniah (aspek rohaniah). Bila pentas tari di sekolah  mendapatkan penghargaan, maka hal itu akan memincu Anti belajar lebih giat. 
Di dalam belajar, terdapat tiga ranah yang satu sama lain sebenarnya tidak dapat dipisahkan dengan tegas. Ketiganya ialah: (1) ranah kognitif (cognitive domain), (2) ranah afektif (affective domain), serta (3) ranah psikomotor (psychomotor domain) yang berhubungan dengan motorik kasar seperti melempar, menangkap, dan menendang,  juga motorik halus seperti menulis dan menggambar.   
Mari kita cermati contoh ketiga ranah belajar tersebut.. Joko anak usia 9 tahun dan duduk di kelas 3 SD. Ia pergi ke mall didekat rumahnya dengan menggunakan sepeda. Kemampuan Joko dalam mengendarai sepeda terdiri dari: (1) pengetahuan tentang cara-cara naik sepeda (ranah kognitif), (2) keberanian naik sepeda (ranah afeksi), dan mampu mengemudikan sepeda untuk berbelok ke kiri maupun ke kanan secara tepat (ranah psikomotor). 
Guru–guru SD perlu melatih ketiga ranah belajar tersebut selama proses belajar mengajar di SD berlangsung dengan memperhatikan prinsip-prinsip belajar. Apa yang dimaksud dengan prinsip-prinsip belajar? Prinsip-prinsip belajar adalah:
1.
 tujuan yang terarah; 
2.
 motivasi yang kuat; 
3.
 bimbingan untuk mengetahui hambatan dan bimbingan;
4.
 cara belajar dengan pemahaman;
5.
 interaksi yang positif dan dinamis antara individu dan lingkungan;
6.
 teknik-teknik belajar;
7.
 diskusi dan pemecahan masalah; serta
8.
 mampu menerapkan apa yang telah dipelajari dalam kegiatan sehari- hari.

Anak SD pergi ke sekolah bukan karena terpaksa, melainkan karena suatu kebutuhan. Oleh karena itu, orang tua dan guru hendaknya tidak memaksa anak agar  belajar di SD, melainkan mengarahkan anak bahwa belajar adalah suatu kebutuhan,  serta membangun motivasi diri yang kuat bahwa dengan belajar di SD berarti mempersiapkan hidup untuk masa depan. Apabila anak mengalami hambatan dan rintangan anak akan memperoleh bimbingan dari guru, sehingga apa yang dipelajari dapat dipahami dengan mudah. Hubungan yang positif dan dinamis antara guru dan orang tua memungkinkan anak untuk belajar secara aktif. 
Proses belajar memerlukan teknik-teknik yang bervariasi. Latihan dan ulangan dapat memperkaya anak untuk belajar. Dengan metode diskusi dan pemecahan masalah siswa SD belajar berani mengemukakan pendapat. Keberhasilan anak SD dalam belajar mempermudah anak untuk mempelajari berbagai kehidupan sehari-hari di masyarakat. Anak SD yang mengalami kesalahan dalam belajar disebabkan karena: 
1.
 belajar tanpa adanya tujuan yang jelas;
2.
 belajar tanpa rencana, hanya insidental (misalnya kalau ada ujian atau ulangan saja);
3.
 hanya menghafal tanpa memahami;
4.
 tidak dikaitkan dengan pengalaman;
5.
 tidak dikaitkan dengan teknik-teknik yang bervariasi;
6.
 tidak dikaitkan dengan pengelolaan waktu belajar; serta
7.
 tidak menggunakan alat bantu, atau referensi yang utuh (buku-buku / internet).


Latihan
Saudara, demikianlah uraian tentang pengertian dan prinsip belajar. Untuk memantapkan pemahaman Anda, kerjakanlah latihan berikut ini.
1.
 Kemukakan inti dari pandangan kelima pakar mengenai pengertian belajar!
2.
 Jelaskan tiga ranah dalam belajar!
3.
 Kemukakan minimal lima prinsip belajar!
4.
 Paparkan minimal tiga kesalahan belajar!

Untuk menilai ketepatan jawaban Anda, bandingkanlah dengan rambu-rambu jawaban latihan di bawah ini.
                        1.
 Inti dari padangan Wolter, Morgan, Crow &Crow dan pakar lainya ialah belajar merupakan perubahan tingkah laku yang menetap, yang diperoleh dari pengalaman dengan situasi yang berbeda-beda dan diharapkan permanen.
2.
 Ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
3.
 Prinsip-prinsip belajar yang terpenting adalah: memiliki tujuan, motivasi kuat, perlu pemahaman, perlu bimbingan, dan menggunakan teknik latihan dan ulangan.
4.
 Tiga kesalahan belajar yang sering dilakukan di SD: belajar tanpa tujuan, hanya hafal, pengelolaan waktu belajar tidak tepat.


Rangkuman










Tes Formatif 1


Tes Formatif 1 
1.
 Berikan contoh mengenai pengertian belajar, menurut apa yang Saudara alami sehari-hari di sekolah dengan mengacu pada pandangan  para tokoh psikologi!
2.
 Berikan contoh tiga ranah belajar dalam kegiatan proses belajar mengajar!
3.
 Kemukakan prinsip-prinsip utama dalam belajar pada saat proses belajar mengajar berlangsung!
4.
 Berikan contoh kesalahan umum dalam belajar pada saat anak menghadapi ulangan mendadak!
5.
 Kemukakan pandangan Anda mengenai kasus anak SD yang takut pergi ke sekolah!


Umpan Balik Dan Tindak Lanjut
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang ada pada bagian akhir unit ini. Hitunglah ketepatan jawaban tersebut dengan cara memberi skor masing-masing soal dengan  rentangan 0-10. Kemudian gunakan rumus berikut ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda. 
Rumus:  
    Jumlah skor kelima jawaban
Tingkat penguasaan:  ------------------------------------------- x       100 %
          50
Apabila penguasaan Anda mencapai tingkat 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan pembelajaran pada subunit berikutnya. Jika masih di bawah 80%, Anda sebaiknya mempelajarinya kembali, terutama bagian yang belum dikuasai.
Subunit 2

Aliran Psikologi Belajar

Saudara, pada subunit 2 ini Anda akan mempelajari pandangan para tokoh psikologi yang membahas tentang belajar. Dengan mempelajari sajian ini, Anda diharapkan dapat menjelaskan pelbagai pandangan ahli tentang belajar, sesuai dengan aliran atau sudut pandang yang dianutnya.  
Secara garis besar, terdapat tiga aliran psikologi yang membahas tentang belajar. Ketiganya ialah psikologi behavioristik, psikologi humanistik, dan psikologi kognitif. 

1.
 Aliran psikologi Behavioristik
Menurut aliran ini, hasil belajar mampu merubah perilaku anak. Jika anak SD merasa senang belajar berarti Anda berhasil menciptakan suasana yang kondusif di dalam kelas. Tokoh-tokoh aliran psikologi behavioristik antara lain: Pavlov, Watson, Gatrie, Skinner. Mengkondisikan belajar dapat dilakukan apabila proses belajar anak tersebut berhasil. Anak dapat diberi  reward dalam bentuk hadiah dan pujian. Apabila anak itu tidak berhasil dapat memacu anak agar mau belajar lagi dengan pemberian penguatan negative  (reinforcement negative).

            2.
 Aliran Psikologi Humanistik
Aliran ini sangat menekankan  pada inisiatif siswa sebagai pribadi yang diberi kebebasan untuk memotivasi diri dalam proses belajar. Aliran ini tidak memaksakan anak untuk belajar. Tokoh aliran ini antara lain: Bandura dan Ericson.

3.
 Aliran Psikologi Kognitif
Aliran ini berpendapat bahwa anak akan belajar mandiri secara aktif apabila menerima rangsang-rangsang dari luar dirinya.  Setelah stimulus (rangsang) diterima reseptor, rangsangan tersebut akan diterima dan diorganisasikan atau elaborasi untuk disimpan dalam memori jangka panjang (long term memory, disingkat MJP. Contoh, anak SD dapat menyebutkan kembali tanggal kemerdekaan Republik Indonesia. Setelah ia pelajari, ia pun menyimpan tanggal tersebut dalam ingatan jangka panjang. Apabila tanggal tersebut tidak diingat berarti proses penyimpanan stimulus di MJP tidak tersimpan dengan baik, atau mungkin lupa. Tokoh aliran ini ialah Piaget.
Gambar 6.1


Lalu, bagaimana cara untuk membangkitkan motivasi belajar siswa SD? Banyak cara yang dapat dilakukan. Di antaranya sebagai berikut.
1.
 Memadukan motif-motif kuat yang sudah ada, melalui kegiatan bermain atau berkesperimen. .
2.
 Memperjelas tujuan yang akan dicapai.
3.
 Merumuskan tujuan-tujuan sementara.
4.
 Merangsang pencapaian kegiatan.
5.
 Membuat situasi persaingan diantara murid-murid.
6.
 Membuat persaingan dengan diri sendiri
7.
 Memberikan hasil kerja yang ingin dicapai.
8.
 Memberikan contoh-contoh yang positif.

Contoh, anak akan merasa terheran-heran apabila mengetahui magnet bisa menarik besi yang ada disekitarnya. Guru SD jangan menjejalkan secara verbal pengetahuan tentang magnet kepada anak. Hal ini akan menumbuhkan persepsi negatif selama proses pembelajaran. Dengan memperjelas tujuan-tujuan yang akan dicapai dalam proses pembelajaran, guru SD dapat menumbuhkan kreativitas, sehingga anak ingin belajar. Untuk dapat mencapai tujuan, guru hendaknya merumuskan tujuan-tujuan insidental agar anak mau belajar dan dapat belajar. Melalui tujuan-tujuan sementara guru merangsang pencapaian kegiatan dengan merangkum, berdiskusi, dan latihan-latihan singkat. Proses belajar ini akan merangsang timbulnya persaingan antara diri siswa dengan siswa lainnya. 
Pemberian contoh-contoh yang positif akan menimbulkan hasrat untuk belajar. Latifah seorang anak SD kelas 4 mencari tahu bagaimana membuat lingkaran tanpa menggunakan jangka. Bersama teman-temanya Latifah mencoba mencari kertas manila, pines, spidol dan tali. Mereka bereksperimen membuat lingkaran dengan pines dan spidol dengan menggoreskan spidol ke karton manila dan menjaga konsistensi jarak antara pines dan spidol. Dengan bantuan tali maka mereka dapat menggoreskan bentuk melingkar pada karton tesebut sehingga membentuk lingkaran. 
Setelah mempelajari cara-cara membangkitkan motivasi belajar, simaklah paparan berikut tentang beberapa hukum belajar.
1.
 Hukum Kesamaan.
Sa-tu
Ba-tu
I-tu
Ku-tu
Si-tu

2.
 Hukum penuh makna





RECEPTOR
STM

Short
Term
Memory
LTM

Long

Term

Memory

Stimulus

Lupa

Organisasi

Elaborasi




Bentuk bulat seperti: bulan, matahari, koin, roda
3.
 Hukum keterdekatan 

4.
 Hukum ketertutupan         ini  ini
5.
 Hukum kontinuitas




Hukum-hukum belajar ini perlu diaplikasikan dalam proses belajar mengajar agar mempermudah anak mengenal kembali pada saat proses pembelajaran berlangsung.
Selanjutnya, mari kita simak sajian tentang hierarki belajar berikut ini. 
1.
 Belajar dengan tanda.              Gambar 6.2

Contoh:
+  tAnda tambah 
-           tAnda kurang  
X  tAnda kali
:  tAnda bagi 

                  
2.
 Belajar dengan stimulus respon.

Gambar 6.3
  

 




3.
 Belajar bersinambung.
Gambar 6.4

  





4. Belajar mengaitkan kata. 
Gambar 6.5





 



Bendera merah putih dari negara……
Contoh:
        1  satu

      11  sebelas
      111  seratus sebelas
Contoh:
Hansip = Pertahanan Sipil
Polwan = Polisi Wanita

Wartel = Warung Telekomunikasi
Pelita  = Pembangunan Lima Tahun
  Contoh:                      
                 





5.
 Belajar membedakan. 

Gambar 6.7











                         

                     
6.
 Belajar konsep melalui belajar mengenal bentuk-bentuk baku.
Gambar 6.8











                        7.
 Belajar aturan, yang dilakukan dengan mengikuti aturan-aturan tertentu.



Contoh:




Contoh:

Yang disebut bilangan-bilangan genap adalah: 2, 4, 6, 8, 10, 12….

Yang disebut bilangan ganjil adalah:
1, 3, 5, 7, 9……
Gambar 6.9
               






Latihan
Setelah Anda mempelajari beberapa aliran Psikologi tentang belajar, cara-cara memotivasi belajar, hukum-hukum belajar, dan hierarki belajar, kerjakan latihan berikut ini dengan baik.
1.
 Aliran Psikologi manakah yang memberikan motivasi belajar bagi siswa sehingga siswa diberi kebebasan untuk belajar menurut kemampuannya sendiri?
2.
 Kemukakan empat cara membangkitkan motivasi belajar yang perlu diterapkan di kelas!
3.
 Jelaskan secara singkat makna hukum belajar dan hierarki belajar!

Untuk menilai ketepatan jawaban Anda, bandingkanlah dengan rambu-rambu jawaban latihan di bawah ini.
1.
 Aliran Psikologi Humanistik adalah aliran yang menjelaskan bahwa belajar dilakukan secara sadar oleh siswa tanpa paksaan. Siswa diberi kebebasan untuk menemukan cara belajarnya sendiri tanpa campur tangan guru.
2.
 Empat cara membangkitkan motivasi dalam proses belajar ialah: (a) memperjelas tujuan yang ingin dicapai pada awal pembelajaran, (b) merangsang pencapaian kegiatan dengan melatih berdiskusi dengan murid-muridnya, agar tumbuh (c) persaingan dengan diri sendiri dan teman-temannya, serta (d) menyampaikan hasil kerja yang telah diperoleh, agar siswa mengetahui mengetahui hasil belajarnya.
3.
 Makna hukum belajar bagi siswa SD adalah agar anak dapat menggunakan hukum-hukum belajar yaitu: hukum kesamaan, kebermaknaan, keterdekatan, ketertutupan, dan kontinuitas untuk mempermudah proses belajar anak. Sedangkan herarki belajar adalah suatu proses belajar yang mengikuti urutan-urutan mulai dari belajar dengan tanda, belajar stimulus respon, belajar bersinambung, belajar mengkaitkan, belajar membedakan, belajar konsep, dan belajar aturan. Anak SD kelas 1- 3 biasanya lebih mudah belajar dengan tanda, belajar stimulus respon, dan belajar mengaitkan; sedangkan anak kelas 4 - 6 seharusnya sudah dapat mengkaitkan kata, belajar membedakan, belajar dengan konsep, dan belajar aturan.



Rangkuman

Ada tiga liran psikologi yang membahas tentang belajar. Ketiganya ialah aliran psikologi Behavioristik, Humanistik dan Kognitif. Perlu pula diketahui cara-cara membangkitkan motivasi belajar dengan tujuan merangsang pencapaian hasil belajar. Hukum-hukum belajar adalah bentuk-bentuk pembelajaran yang mebantu siswa SD pada saat belajar. Sedangkan hierarki belajar adalah aturan proses belajar dari jenjang yang sederhana sampai pengertian konsep-konsep yang mendasar.

Tes Formatif 2
Kerjakanlah pertanyaan-pertanyaan dalam tes formatif berikut dengan benar! 
1.
 Jelaskan tiga aliran psikologi belajar menurut pemahaman Anda sendiri!
2.
 Jelaskan mengapa Anda sebagai guru SD sangat berperan untuk membangkitkan motivasi belajar sisiwa!
3.
 Berikan contoh hukum kesamaan, hukum ketertutupan, dan hukum kontinuitas dalam proses pembelajaran di kelas!
4.
 Jelaskan hirarki belajar yang terpenting untuk anak kelas 1 sampai kelas 3!


Umpan Balik Dan Tindak Lanjut
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang ada pada bagian akhir unit ini. Hitunglah ketepatan jawaban tersebut dengan cara memberi skor masing-masing soal dengan  rentangan 0-10. Kemudian gunakan rumus berikut ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda. 
Rumus:  
    Jumlah skor kelima jawaban
Tingkat penguasaan:  ------------------------------------------- x       100 %
          40
Apabila penguasaan Anda mencapai tingkat 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan pembelajaran pada subunit berikutnya. Jika masih di bawah 80%, Anda sebaiknya mempelajari kembali, terutama bagian yang belum dikuasai.
Subunit 3

Kesulitan  Belajar

  ubunit 3 mendeskripsikan berbagai masalah belajar yang dikaji secara akademis, gangguan simbolik maupun gangguan non simbolik. Subunit III mendalami berbagai masalah belajar sebagai introduksi bagi Saudara untuk mengkaji dengan literatur lain kesulitan-kesulitan lain anak-anak SD - MI yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Sajian pada subunit 3 ini akan mengulas berbagai permasalahan belajar yang ditinjau dari segi akademis, gangguan simbolik dan ganguan nonsimbolik, serta langkah awal yang harus ditempuh sebagai bahan rujukan penyelesaian masalah belajar anak usia sekolah dasar. Sebagai contoh, sering kita dengar kecemasan seorang anak pada saat menempuh ujian. Tuti sangat cemas dan takut apabila ujiannya gagal. Keberhasilan dan kegagalan seorang anak belajar di SD sangat erat terkait dengan tingkat kemampuan anak. 
Ada tiga jenis kesulitan belajar yang seringkali ditemui dalam perkembangan seorang anak.
1.
 Kesulitan belajar akademis.
Kesulitan belajar akademis siswa sekolah dasar sering dinamakan kesulitan “CALISTUNG” (membaca, menulis, berhitung).
            a.
 Kesulitan membaca dapat disebabkan karena gangguan pertumbuhan psikologis dan juga hambatan didaktik-metodik. Acapkali anak SD mengenal bunyi huruf, tetapi mereka kesulitan membacanya apabila huruf itu  dirangkaikan menjadi kata. Disamping itu, anak SD juga mengalami ketidakmampuan membaca yang disebabkan karena faktor-faktor psikologis (gagap). Anak merasa malu ditertawakan teman-temannya, sehingga terjadi kesulitan pada saat membaca. Gangguan dalam membaca karena anak kehilangan kemampuan membaca disebut aphasia. Ketidakmampuannya untuk membaca karena gangguan fungsi saraf (neurologisnya rusak) disebut dyslexsia.
b.
 Kesulitan menulis dapat disebabkan karena kemampuan psikomotor kurang terlatih.. Ketidakmampuan motorik melakukan encoding atau menyandikan lambang atau bentuk-bentuk huruf tertentu, menyebabkan anak mengalami ketidakmampuan untuk menulis. Seorang anak SD yang tulisannya buruk, sulit untuk dibaca dan tidak rapi akibat ganguan syaraf disebut Disgraphia. Gerakan yang berlebih dan tidak normal misalnya menghentak-hentakan kaki, bergoyang–goyang terus, berkedip-kedip menggaruk-garuk kepala secara tidak teratur disebut hyperkenesis. 
c.
 Kesulitan berhitung anak SD berkaitan dengan penerapan konsep-konsep kuantitatif. Mungkin ia pandai menyebutkan lambang-lambang bilangan. Tetapi, mereka kesulitan kalau lambing-lambang bilangan itu diterapkan dalam konteks penjumlahan,  perkalian, pengurangan dan  pembagian. Kesulitan untuk mengerjakan bilangan pada saat berhitung disebut discalculia.

2. Kesullitan belajar yang lain dapat disebabkan karena gangguan simbolik antara lain siswa itu mampu mendengar, tetapi tidak mengerti apa yang didengar. Ia juga mampu mengaitkan objek yang dilihat, namun mengalami gangguan pengamatan (visual reseptive). Anak juga mengalami gangguan gerak-gerik (motoraphasia). Siswa yang seperti ini sulit untuk dapat memahami suatu objek sekali pun ia memiliki pendengaran yang normal.
3. Gangguan nonsimbolik adalah ketidakmampuan anak memahami isi pelajaran karena ia mengalami kesulitan untuk mengenal kembali apa yang telah dipelajarinya pada pelajaran sebelumnya. Ketidakmampuan pengamatan akan menimbulkan gangguan keliru karena ia tidak mampu memanipulasi benda walaupun indra motornya normal.

Kesulitan belajar yang telah dipaparkan tersebut sangat berdampak pada proses belajar. Namun, ada pula siswa SD yang karena proses kelahiran atau musibah mengalami cidera otak, sehingga siswa itu tidak mampu untuk belajar. Ketidakmampuan untuk melakukan tugas-tugas tertentu yang tidak dapat dilakukan anak-anak yang sebaya seperti: mandi sendiri, sikat gigi, menulis, membaca disebut learning disability. Anak yang mengalami kerusakan saraf yang berat disebut learning disorder. Anak yang mempunyai kecerdasan diatas rata-rata, namun prestasi akademiknya rendah disebut underachiever. Sedangkan anak yang lamban belajar dan tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan tepat serta waktu belajarnya lebih lama dibandingkan rata-rata anak seusianya disebut  slow learner.
Apa yang Anda lakukan apabila ada murid SD yang mengalami kesulitan belajar seperti yang dipaparkan tadi? Langkah awal yang perlu dilakukan adalah berbicara dengan kepala sekolah. Kemudian, melakukan pengamatan yang cermat dan mendalam. Buatlah Cummulative Records (Anecdotal Records) setelah memperoleh informasi dan memahami permasalahan belajar anak tersebut. Carilah penyuluhan atau referal untuk membuat program-progam Therapy atau Treatment. 
Setelah Anda mempelajari sajian tentang kesulitan belajar, mantapkanlah pemahaman Anda dengan mengerjakan latihan di bawah ini! 
1.
 Jelaskan tiga jenis kesulitan belajar!
2.
 Jelaskan perbedaan learning disability dan disorder!
3.
 Jelaskan apa yang dimaksud dengan underachiver!
4.
 Anak yang mempunyai IQ 80 dan tidak mampu menyelesaikan pekerjaannya disebut anak .............................   Jelaskan!
5.
 Uraikan cara-cara mendiagnosis kesuliltan belajar siswa!


Latihan
Apabila Anda telah mengerjakan latihan tersebut, bandingkan hasilnya dengan rambu-ambu jawaban latihan di bawah ini.
1.
 Tiga jenis kesulitan belajar terdiri atas: gangguan akademis seperti  CALISTUNG, ganguan simbolik, dan gangguan nonsimbolik. 
2.
 Learning disability adalah ketidakmampuan anak untuk melakukan proses belajar dibandingkan dengan anak lain yang sebaya. Learning disorder adalah kesulitan belajar akaibat kerusakan syaraf.
3.
 Underachiver adalah siswa yang memiliki prestasi akademik yang rendah, walaupun potensi kecerdasannya diatas rata-rata.
4.
 Anak dengan IQ 8O disebut slow learner, lamban dalam belajar dan pekerjaannya tidak pernah selesai.
5.
 Cara mendiagnosis kesulitan belajar siswa berbicara dengan kepala sekolah, menggali kelemahan dan kekuatan siswa, serta melakukan prosedur referal.


Rangkuman
Kesulitan belajar ada tiga macam yaitu kesulitan secara akademis, simbolik, dan non simbolik, yang dapat disebabkan olehcidera otak. Dalam upaya memahami kesulitan belajar anak, guru perlu melakukan diagnostik kesulitan belajar.

Tes Formatif 3
Jawablah pertanyaan-pertanyaan dalam tes formatif berikut dengan benar!
1.
 Rumuskan apa yang dimaksud dengan kesulitan belajar!
2.
 Jelaskan gangguan belajar secara simbolik dan nonsimbolik!
3.
 Jelaskan tiga bentuk ketidakmampuan belajar pada anak karena gangguan syaraf!
4.
 Paparkan langkah-langkah yang Saudara buat untuk menganalisis kesulitan belajar siswa!
5.
 Sebutkan bentuk prosedur referal yang Saudara lakukan sebagai guru kelas apabila harus membimbing anak yang mempunyai kesulitan belajar!


UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 3 yang ada pada bagian akhir unit ini. Hitunglah ketepatan jawaban tersebut dengan cara memberi skor masing-masing soal dengan  rentangan 0-10. Kemudian gunakan rumus berikut ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda. 
Rumus:  
    Jumlah skor kelima jawaban
Tingkat penguasaan:  ------------------------------------------- x       100 %
          50
Apabila penguasaan Anda mencapai tingkat 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan pembelajaran pada subunit berikutnya. Jika masih di bawah 80%, Anda sebaiknya mempelajari kembali, terutama bagian yang belum dikuasai.

Subunit 4

Permasalahan Belajar Karena Gangguan 
Sosial Emosional

 etiap guru ingin mengajar murid-murid yang berperilaku baik dan pandai. Pada umumnya seorang guru ingin membangun keberhasilan dalam proses belajar di kelas. Sayangnya, tidak semua anak adalah anak yang baik dan pintar. Kadang kala ada juga anak yang tergolong nakal di kelas dan suka mengganggu temannya maupun gurunya. Didukung tayangan audio visual pada subunit 4 menggambarkan beberapa contoh gangguan sosial emosional yang nampak di kelas.
Anak seperti itu cenderung tidak bisa duduk diam. Ia cenderung bergerak terus-menerus, kadang suka berlarian, suka melompat-lompat, bahkan berteriak-teriak di kelas. Anak ini sulit untuk dikontrol. Ia melakukan aktivitas sesuai dengan kemauannya sendiri. Ia pun suka mengganggu temannya bahkan gurunya. Anak ini disebut anak hiperaktif.
 Ada lagi tipe anak yang cenderung cepat bosan. Ia sering kali mengalihkan perhatiannya keberbagai objek lain di kelas. Anak ini mudah dipengaruhi, namun tidak dapat memusatkan perhatian pada kegiatan-kegiatan yang berlangsung di kelas. Anak seperti ini disebut sebagai distractibility child.
 Ada pula anak yang cenderung pendiam di kelas, pasif, atau sangat perasa sehingga mudah tersinggung. Karakteristik anak seperti ini cenderung tidak berani bertanya atau menjawab, serta merasa dirinya tidak mampu. Karena itu, ia cenderung kurang berani bergaul serta suka menyendiri. Anak seperti ini disebut poor self concept.
 Ada pula anak yang cepat bereaksi setiap guru memberi pertanyaan di kelas. Namun, jawaban yang diberikan sering kali tidak menunjukkan kemampuan berpikir yang logis. Anak seperti ini ingin menunjukkan bahwa ia adalah anak yang pandai, padahal cara anak itu menjawab justru mencerminkan ketidakmampuannya. Anak seperti ini disebut anak impulsif.
 Di kelas ada pula siswa yang suka merusak benda-benda yang ada d sekitarnya. Sikap agresif yang negatif dalam bentuk membanting dan melempar menunjukkan bahwa anak ini adalah anak yang bermasalah (trouble maker). Anak seperti ini cepat tersinggung. Ia bertempramen tinggi, yang menggarah kepada perilaku agresif. Anak seperti ini disebut anak destructive behavior.
 Ada pula anak yang sering mengeluarkan kata-kata kasar dan tidak sopan. Dengan nada mengejek, anak ini cenderung menentang guru. Sumpah serapah berupa kata-kata kasar yang tidak sopan kerap terlontar. Anak seperti ini disebut distruptive behavior.
 Setiap tahun ajaran baru ada anak yang selalu bergantung pada orang tunya. Anak seperti ini sering merasa takut dan tidak mampu untuk berani melakukannya sendiri. Ia sangat bergantung pada orang disekitarnya. Sikap orang tua yang terlalu over protective atau sangat melindungi membuat anak sangat tergantung. Anak seperti ini disebut dependency child.
 Sosial ekonomi masyarakat Indonesia belum merata. Ada anak yang mempunyai sosial ekonomi yang sangat rendah, sehingga merasa dirinya bodoh dan enggan untuk mencoba membuat tugas-tugas yang diberikan oleh guru karena dirinya merasa tidak mampu. Anak seperti ini disebut anak withdrawl.
 Ada pula anak-anak yang tidak memiliki kemampuan mental yang setara dengan anak-anak yang sebaya. Anak seperti ini sulit untuk menganalisis, menangkap isi mata pelajaran, dan mengaplikasikan apa yang dipelajari. Anak ini disebut learning disability.
 Ada anak yang mempunyai cacat bawaan baik kerusakan fisik maupun syaraf. Anak seperti ini cenderung  sulit untuk belajar secara normal seperti anak-anak yang sebaya. Anak seperti ini membutuhkan penanganan para ahli yang dilakukan oleh lembaga-lembaga khusus, seperti anak yang menderita  Autism Sectrum Disorder/ ASD). Anak ini dikelompokkan dalam kelompok learning disorder.
 Ada pula anak yang mempunyai potensi intelektual di atas rata-rata, namun prestasi akademiknya di kelas sangat rendah. Semangat belajarnya juga sangar rendah. Anak seperti ini sering menyepelekan tugas-tugas yang diberikan, dan PR  sering dilupakan. Anak seperti ini disebut anak underachiver.
 Ada pula anak yang mempunyai semangat belajar yang sangat tinggi, ia merespon dengan cara cepat. Anak seperti ini tidak bisa menerima kegagalan. Ia tidak mudah menerima kritikkan dari siapapun termasuk gurunya. Anak seperti ini disebut overachiver.
Ada pula anak yang sulit menangkap pelajaran di kelas dan membutuhkan waktu yang lama untuk dapat menjawab dan mengerjakan tugas-tugasnya. Anak ini disebut anak slow learner.
Di kelas sering kali kita jumpai anak yang kurang peka dan tidak perduli terhadap lingkungannya. Anak ini kurang tanggap dalam membaca ekspresi dan sulit bergaul dengan teman-teman yang ada di kelas. Ia disebut social interseption child.
Latihan
Saudara mempelajari subunit 4, kini untuk memantapkan pemahaman Anda, kerjakanlah latihan di bawah ini.
1.
 Di dalam kelas, sering   kita jumpai anak SD yang berperilaku agresif negative. anak ini cenderung merusak barang dengan cara membanting dan melempar, dan juga senang berkelahi.  Lakukan observasi mengenai perilaku tersebut dan jelaskan istilah perilaku anak tersebut!
2.
 Akibat keadaan sosial ekonomi yang amat rendah sering kita jumpai anak yang suka menarik diri dari pergaulan. Anak ini merasa bodoh dan cepat menyerah apabila tugas yang harus diselesaikannya tidak dapat dikerjakan.  Kemukakan istilah dari karakteristik anak tersebut.  Apakah di kelas Saudara, dijumpai anak-anak seperti itu dan apa yang akan Anda lakukan?
3.
 Didalam kelas ada siswa yang sebenarnya memiliki potensi intelektual di atas rata-rata. Namun, semangat belajarnya sangat rendah dan sering menyepelekan tugas-tugas yang diberikan.  Kemukakan pendapat Saudara mengenai karakteristik anak tersebut dan lakukan observasi!
4.
 Anak-anak usia kelas tiga ke atas cenderung suka mengganggu guru dan temannya.  Anak ini tidak bisa diam dan menunjukkan sikap yang terlalu aktif. Ia sering berlarian, melompat-lompat, dan berteriak-teriak.  Sebutkan karakteristik anak tersebut dan jelaskan tindakan Saudara! 


Selanjutnya, bandingkanlah jawaban Anda dengan rambu-rambu jawaban latihan berikut ini.
1.
 Anak ini disebut destructive behavior, yang perilakunya cenderung bersifat agresif negatif, menjadi pembuat masalah (trouble maker), dan cepat tersinggung.
2.
 Anak ini disebut anak withdrawl yang suka menarik diri dari pergaulan karena merasa bodoh.  Ia enggan untuk mencoba sehingga acap kali tugas-tugasnya tidak selesai dan mudah menyerah pada keadaan.
3.
 Anak ini disebut underahicever, sekalipun potensi intelektualnya di atas rata-rata namun semangat belajarnya rendah dan sering kali menyepelekan tugas-tugas yang diberikan sekolah.
4.
 Anak ini disebut anak hiperactivity, karena cenderung selalu bergerak, sulit dikontrol dan melakukan tindakan-tindakan sesuai dengan keinginanya.


Rangkuman




















P
ermasalahan sosial emosional dalam belajar antara lain: 
 Hiperaktif,    = tidak bisa diam, terus bergerak
 Distractibility child,   = anak yang cepat bosan dan perhatian mudah beralih-alih
 Poor Self Consept,   = anak yang kurang berani dan merasa selalu tidak mampu
 Impulsif,    = cepat bereaksi
 Distructive Behavior,  = perilaku yang agresif
 Distruptive Behavior, = anak yang suka sumpah serapah
 Dependency child,   = anak yang suka bergantung pada orang sekitarnya
 Withdrawal,    = anak yang suka menarik diri dan pemalu
 Learning Disability,   = sulit menangkap isi pelajaran
 Learning disorder,   = sulit menangkap isi pelajaran
 Underachiver,  = potensi kemampuan dibawah kemampuan usia sebaya
  Overachiver,   = semangat belajar tinggi respon cepat


Slow Learner,   = sulit menangkap isi pelajaran
 B  u  d  i
Tes Formatif 4
Jawablah dengan benar pertanyaan-pertanyaan dalam tes formatif  berikut! 
1.
 Jelaskan apa yang dimaksud dengan karakteristik distractibility child.
2.
 Jelaskan ciri-ciri siswa yang memiliki poor self concept!
3.
 Jelaskan karakteristik anak kelas satu yang tergolong dependency child!
4.
 Kemukakan pendapat Saudara mengenai kasus overachiver yang mungkin Saudara alami di kelas!

5.
 Kemukakan pendapat Saudara mengenai sikap social interseption child pada anak usia SD!


Umpan Balik Dan Tindak Lanjut
Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang ada pada bagian akhir unit ini. Hitunglah ketepatan jawaban tersebut dengan cara memberi skor masing-masing soal dengan  rentangan 0-10. Kemudian gunakan rumus berikut ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda. 
Rumus:  
    Jumlah skor kelima jawaban
Tingkat penguasaan:  ------------------------------------------- x       100 %
          50
Apabila penguasaan Anda mencapai tingkat 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan pembelajaran pada subunit berikutnya. Jika masih di bawah 80%, Anda sebaiknya mempelajari kembali, terutama bagian yang belum dikuasai.


Kunci Jawaban Tes Formatif


Pedoman Skoring Tes Formatif
Bacalah soal-soal yang tertera pada subunit 1 sampai 4 dengan menjawab sesuai kajian materi pada bahan ajar cetak. Tuliskan jawaban Saudara dengan selengkap-lengkapnya. Setelah Saudara memberikan jawaban tes formatif unit 1 sampai 4 bacalah kunci jawaban pada setiap tes formatif. Bila jawaban Saudara tepat sama beri nilai 1, bila jawaban Saudara tidak sama namun mengandung kebenaran yang mendekati kajian yang ada dalam BAC Saudara memberi nilai 0,5 sedangkan jawaban yang kosong atau sama sekali tidak sesuai dengan kunci jawaban yang ada soal tersebut diberi nilai 0.
Anda diharapkan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan latihan untuk mengukur kemampuan penguasaan kompetensi, setelah mempelajari unit 4.  

Tes Formatif 1
Contoh:
1.
 Jika seorang anak SD belajar berhitung dengan menggunakan kalkulator berarti ia melakukan perbuatan berdasarkan pengalaman dan latihan-latihan agar memiliki pengetahuan untuk menghitung dengan cepat dan tepat.
2.
 Tiga unsur belajar meliputi Cognitive Domain, Affective Domain, Psychomotor Domain. Contoh: Apabila anak tersebut dapat mengoperasikan kalkulator berarti ia mempunyai pengetahuan tentang cara-cara mengoperasikan kalkulator (Cognitive) dan terampil menekan tombol-tombol kalkulator sesuai dengan yang dikerjakan (Psychomotor), sehingga merasa puas menghitung dengan kalkulator(Affective)
3.
 Contoh: jika Saudara sebagai guru SD mengajarkan  IPS di kelas tiga maka perlu menerangkan tujuan yang akan dicapai dalam pokok bahasan IPS. Cara ini menumbuhkan motivasi anak SD pada saat belajar, sehingga anak SD bukan belajar dengan mengahfal, tetapi memperoleh pemahaman tentang IPS. Bila anak SD mengalami kesulitan mengerti tentang pokok bahasan tersebut, perlu diberikan bimbingan. Teknik-teknik latihan dan diskusi bersama teman dan guru diharapkan pelajaranya berhasil.
4.
 Contoh kesalahan umum yang dilakukan jika guru memberikan ulangan mendadak adalah anak belajar tanpa rencana, belum paham, dan belum mempunyai tujuan yang jelas. Kemungkinan anak tidak siap, sehingga nilainya tidak memuaskan.
5.
 Kasus anak SD yang takut pergi ke sekolah disebabkan, karena kurang adanya interaksi yang positif dan dinamis antara guru dan murid. Tanpa interaksi apa yang dipelajari dikelas belum tentu diketahui dengan jelas oleh anak SD. Anak akan senang belajar apabila ia mempunyai tujuan yang jelas mengenai manfaat yang dipelajari dan menyadari bahwa hasil yang dipelajari sangat berguna untuk kehidupannya.


Tes Formatif 2
1.
 Aliran psikologi behavioristik adalah aliran yang mengutamakan peran guru pada saat mengkondisikan anak belajar di kelas. Aliran psikologi humanistik adalah aliran yang mengutamakan kemandirian siswa tanpa campur tangan guru. Aliran psikologi kognitif adalah aliran yang sangat menekankan pemprosesan informasi di kelas.
2.
 Guru SD berperan untuk membangkitkan motivasi belajar siswa agar dapat dapat memadukan motif-motif yang kuat yang sudah ada. Apabila anak SD itu sudah matang untuk belajar membaca, guru perlu memotivasi kemampuan membaca dengan mengajak anak ke perpustakaan atau membuat bacaan spontan. Peran guru SD untuk memotivasi kegiatan agar tumbuh persaingan dalam dirinya maupun dengan teman-temannya. Melalui pemberian contoh-contoh yang positif guru dapat memotivasi siswa agar memperoleh hasil kerja yang maksimal.
3.
 Contoh hukum kesamaan untuk anak kelas 1 SD. Contoh: 

Hukum Kontinuitas


4.
 Hierarki belajar yang penting untuk anak kelas 1- kelas 3 adalah belajar tanda, belajar stimulus respon, dan belajar berkesinambungan. Contoh:
Seorang anak bersama ayahnya berada didalam mobil dan melihat lampu lalu lintas. Lalu, anak itu mengatakan kepada ayahnya bahwa ayahnya harus menghentikan kendaraanya (belajar tanda). Setelah anak itu melihat lampu lalu lintas berwarna hijau (stimulus respon) ia mengatakan, “Ayo, Pak, jalan!”. Berarti anak itu telah melakukan proses belajar bersinambung karena memahami urutan warna yang ada pada lampu lalu lintas.


Bu

Di
Bu
Sa

Tes Formatif 3
1.
 Kesulitan belajar adalah hambatan belajar yang disebabkan karena gangguan  akademis atau gangguan psikologis. Gangguan akademis dinamakan kesulitan CALISTUNG (baca tulis dan hitung).
2.
 Gangguan belajar secara simbolik adalah ketidakmampuan siswa untuk memahami yang disebabkan oleh gangguan reseptif pendengaran. Gangguan non- simbolik adalah kesulitan untuk mengenal kembali apa yang telah dipelajarinya, yang disebabkan oleh ketidakmampuan melakukan pengamatan dan membedakan suara.
3.
 Aphasia adalah ketidak mampuan bahasa karena cidera otak. Dyslexia adalah kesulitan membaca karena gangguan neuron. Dyscalculia adalah kesulitan mengerjakan matematika karena gangguan syaraf.

4.  Langkah-langkah untuk menganalisis belajar siswa dapat dilakukan antara lain sebagai berikut.
 Berbicara dengan kepala sekolah
 Mencari informasi
 Menganalisis kelemahan dan kekuatan belajar
 Membuat Cummulative Records
 Mencari penyuluhan
 Melakukan prosedur referal.

5.
 Bentuk-bentuk prosedur referal yang dapat dilakukan guru adalah menghubungi konselor,untuk memperoleh bantuan penelusuran kesulitan belajar, atau menghubungi seorang psikolog untuk memperoleh berbagai treatment atau terapi.


Tes Formatif 4
1.
 Distractibility child adalah anak yang cenderung cepat bosan, cepat tertarik pada hal-hal baru, cepat mengalihkan perhatiannya pada hal-hal lain, sangat mudah dipengaruhi dan sulit memusatkan perhatian pada kegiatan-kegiatan di kelas.
2.
 Anak Poor Self Consept cenderung pendiam di kelas, sangat perasa, mudah tersinggung, tidak aktif bila disuruh menjawab, serta merasa diri tidak mampu dan tidak berani bergaul.
3.
 Anak kelas satu yang selalu bergantung pada ibu atau pengasuhnya, seringkali merasakan dirinya tidak mampu melakukan apa-apa, suka mengeluh, selalu meminta pertolongan teman serta tidak mempunya rasa percaya diri. 
4.
 Overachiver adalah anak yang mempunya semangat belajar yang sangat tinggi, cepat merespon, dan sangat tanggap terhadap tugas-tugas yang diberikan.  Anak ini ingin berusaha yang terbaik, tidak bisa menerima kegagalan, tidak mudah dikritik, dan sangat menginginkan nilai tinggi.
5.
 Social Interseption child adalah anak yang sulit beradaptasi dengan lingkungan, kurang peka dan kurang peduli terhadap situasi lingkungan, sehingga kurang tanggap untuk membaca ekspresi orang lain.
Daftar Pustaka



Ahbadi, A. 1990. Psikologi belajar.  Jakarta : Rineka Cipta.

Dahar, R.W. 1991. Teori-teori belajar. Jakarta : Erlangga.

Nasution, S, 1995. Berbagai pendekatan dalam proses belajar dan mengajar.    Jakarta: Bumikarsa.

Slameto. 1995. Belajar dan faktor-faktor yang mampengaruhinya. Jakarta : Rineka    
          Cipta.

Sprinthall, R. C. dan  Sprinhall,  N. A. 1994. Educational psychology. American International College. Random House; USA.

Winkel, W.S. 1987. Psikologi pengajaran. Jakarta: Gramedia.

Glosarium
   
Domain       :  ranah, matra, tingkatan atau peringkat pada tahapan belajar    
                                       seseorang
Permanen   :  tetap, tidak berubah, selalu sama
Motivasi  :  dorongan untuk melakukan aktivitas
Interaksi   :  hubungan, keterkaitan yang satu dengan yang lain
Stimulus  :  rangsang, penggerak aktivitas
Reseptor  :  penerima rangsang
Memori   :  ingatan, daya untuk mengingat suatu stimuli
Elaborasi  :  perubahan dari satu bentuk tertentu menjadi bentuk lain
Kontinuitas  :  kesinambungan sehingga terbentuk hal-hal baru
 



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar