Animated flag images by 3DFlags.comSEMOGA SEMUA YANG SAYA UPLOAD DI BLOG INI BERGUNA BAGI TEMAN-TEMAN, BLOG INI SEBAGIAN BESAR BERISI TENTANG BAHAN-BAHAN KULIAH SAYA YANG JUGA SAYA GUNAKAN SEBAGAI ARSIP SENDIRI, JADI BANYAK YANG BUKAN TULISAN SAYA SENDIRI... MOHON DIMAKLUMI Animated flag images by 3DFlags.com

Sabtu, 08 Oktober 2011

PERKEMBANGAN INTELEK, BAHASA, MORAL DAN KEPRIBADIAN PESERTA DIDIK


Pendahuluan

Pembelajaran pada  unit 3 ini merupakan kelanjutan dari unit 2 yang membahas aspek-aspek perkembangan peserta didik usia SD/MI. Pembelajaran pada unit ini  bertujuan agar Anda sebagai mahasiswa program PJJ S1-PGSD mampu menjelaskan aspek perkembangan intelek, bahasa, moral, dan kepribadian peserta didik pada usia SD/MI. 
Untuk mencapai kompetensi dasar tersebut, sajian pada unit ini akan dikemas ke dalam empat subunit. Subunit 1 bertujuan menjelaskan pengertian intelegensi, konstruksi stuktur pengetahuan atau skema kognitif melalui proses asimilasi dan akomodasi, tahap perkembangan kognitif dari J.Piaget, klasifikasi kecerdasan intelegensi dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan intelek pada masa anak akhir. Subunit 2 bertujuan menjelaskan pengertian dan keterkaitan berbahasa dengan kemampuan berfikir, pola perkembangan bahasa anak, empat keterampilan berbahasa, serta  faktor-faktor yang mempengaruhi dan kendala dalam perkembangan bahasa anak. Pada subunit 3 akan dijelaskan pengertian perkembangan moral, membedakan tiga tahap perkembangan moral dari Kohlberg, dan memberi contoh cara membentuk sikap moral pada anak. Terakhir, pada subunit 4 akan dibahas pengertian dan pentingnya konsep diri positif dalam pembentukan kepribadian, memberi contoh cara mengembangkan konsep diri peserta didik, serta faktor yang mempengaruhi  kesehatan mental pada peserta didik. 
 Pembelajaran pada unit 3 ini dilakukan melalui kegiatan pembelajaran tatap muka dan terutama pembelajaran mandiri dengan menggunakan bahan ajar cetak maupun berbasis web, dan video mengenai perkembangan moral anak. Sebagaimana halnya pada unit 2,  Anda bebas memilih untuk mulai mempelajari aspek perkembangan mana saja.yang dibahas pada  subunit 3.     

Unit 3

Tipologi kepribadian dapat dikelompokkan atas: (1) tipologi yang bersifat fisik seperti tipe choleric-melancholic-phlegmatic-sanguinis, asthenicus-pycknicus-athleticus, ectomorf- endomorf-mesomorf; serta (2) tipologi yang bersifat psikis seperti tipe ekstrovert-introvert, dan berorientasi produktif-tidak produktif.

Faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian antara lain: kepercayaan diri berharga, kepuasan akan perannya, hubungan dengan  orang lain.

Kesehatan mental perlu diciptakan melalui penciptaan lingkungan sosialpsikologis yang kondusif agar kepribadian anak secara keseluruhan berkembang secara sehat dan wajar 
Penguasaan kompetensi dilakukan melalui jawaban Anda atas latihan dan tes formatif yang ada pada setiap subunit. Oleh karena itu, pelajarilah dengan baik uraian materi unit 3 ini sehingga Anda dapat menjawab dengan baik pula  pertanyaan pada soal latihan maupun tes formatif yang ada.

Subunit 1

Perkembangan Intelek

engembangkan kemampuan intelek atau kognitif merupakan bagian tujuan pendidikan di Indonesia untuk mencerdaskan  bangsa. Konsep perkembangan  intelek menjadi masukan penting untuk mengembangkan sistem pendidikan dan pengajaran. Pada bagian ini, Anda  akan mempelajari aspek perkembangan intelek yang meliputi pembahasan mengenai pengertian dan klasifikasi intelegensi,  struktur pengetahuan, dan tahap perkembangan kognitif, serta faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan intelek peserta didik usia SD./MI.

Pengertian dan Klasifikasi Intelegensi 
 Intelek adalah kemampuan jiwa atau psikis yang relatif menetap dalam proses berpikir  untuk membuat hubungan-hubungan tanggapan, serta kemampuan memahami, menganalisis, mensintesiskan, dan mengevaluasi. Intelektual berfungsi dalam pemben-tukan konsep yang dilakukan  melalui pengindraan pengamatan, tanggapan, ingatan, dan berpikir.  
Konsep yang mendasari pengertian merupakan kemampuan untuk menangkap sifat, arti, atau keterangan mengenai sesuatu dan mempunyai gambaran yang jelas dan lengkap tentang hal tersebut (Hurlock, 1990). Pengertian didasarkan pada konsep yang terbentuk melalui pengindraan. Konsep bukan kesan pengindraan secara langsung, melainkan dapat merupakan penggabungan atau perpaduan berbagai hal yang  disatukan dengan berbagai unsur, berbagai objek, dan situasi, sehingga menyatukannya dalam satu konsep. Konsep besifat simbolis sebab bergantung pada situasi yang dihadapi maupun sifat benda. Konsep juga kadang mempunyai sifat afektif yaitu suatu bobot emosional yang menjadi bagian dari konsep tersebut dan membentuk perasaan dan sikap seseorang terhadap orang, benda, atau situasi yang dikmebangkan dengan konsep tersebut. Jadi, konsep merupakan hal yang penting karena menentukan apa yang diketahui dan diyakini seseorang dan yang akan dilakukan seseorang. 

 Pengertian dapat dicapai dengan menerapkan  pengetahuan yang diperoleh sebelumnya ke pengalaman dan situasi yang baru, dengan cara melakukan eksplorasi menggunakan indera terhadap benda yang dapat diamati, manipulasi motorik jika koordinasi motorik sudah cukup berkembang, bertanya mengenai hal-hal yang menimbulkan rasa ingin tahu, media masa bergambar seperti komik dan televisi, serta membaca buku dan cerita. Dalam perkembangan, konsep dan pengertian penting diperlu-kan kemampuan untuk melihat adanya hubungan antara pengalaman baru dan lama, kemampuan menguasai atau memahami arti yang tersirat, dan kemampuan bernalar melalui pemikiran induktif ataupun deduktif. Pengertian memungkinkan peserta didik untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri terhadap perubahan pribadi maupun perubahan lingkungan. Penyesuaian pribadi dan sosial dalam kehidupan seseorang banyak dipengaruhi oleh pengertiannya akan diri sendiri, orang lain, dan lingkungannya. 
Fungsi intelektual berkaitan dengan intelegensi dinyatakan sebagai kecerdasan. Kecerdasan intelektual atau intelegensi merupakan suatu kapasitas atau suatu kecakapan potensial yang terdiri atas: (1)  faktor G (general factors) yang mendasari hampir semua perbuatan individu, (2) faktor S (special factors) yang berfungsi dalam perbuatan khusus yang khas, mirip dengan bakat,  dan (3) faktor C (common factors) yang merupakan rumpun dari beberapa faktor khusus. 
Menurut Thurston (Sukmadinata, 2003) ada tujuh faktor C, yaitu: kemampuan verbal, kelancaran menggunakan kata-kata, memecahkan masalah matematis, memahami ruang, mengingat, melakukan pengamatan/persepsi, dan berpikir logis. Dengan adanya beberapa pengelompokan kecerdasan tersebut, Gardner mengemukakan konsep kecerdasan ganda (multiple intelligence). Namun, pada bagian ini akan dibahas mengenai kecerdasasan intelektual seseorang yang biasa dikenal dengan istilah IQ (Intelligence Quotient). 
IQ atau intelligence quotient merupakan hasil bagi usia mental dengan usia kronologis/kalender dikalikan dengan seratus. Terdapat beberapa jenis tes IQ yang dikembangkan oleh berbagai ahli psikologi, seperti tes IQ yang disusun oleh Binet dan direvisi oleh Terman dan tes IQ yang disusun oleh Wechsler. Dengan berpegang pada satuan ukuran IQ, maka kecerdasan dalam populasi dikategorikan dalam tabel  berikut ini (Sukmadinata, 2003). 
Tabel 3.1
IQ
Kategori
Persentase

140  -  …..
130  -   139
120 -   129

110   -   199
  90   -   109
  80   -    89
  70    -    79
  50    -    69
  25    -    49
    …..  -    24 
Genius
Sangat cerdas
Cerdas
Di atas normal
Normal
Di bawah normal
Bodoh
Debil
Imbecil
Idiot
0,25 %
0,75 %
     6  %
   13  %
    60 %
    13 %
      6 %
  0,75 %
  0,20 %
  0,05 %


Individu atau anak-anak dengan IQ di bawah 70 termasuk kelompok anak terbelakang. Umumnya mereka tidak bisa belajar pada sekolah biasa, tetapi perlu mendapat pendidikan atau pelatihan di sekolah khusus dalam sesuatu bidang atau kemampuan tertentu. Demikian juga halnya anak-anak dengan IQ di atas 140 (genius). Walaupun mereka tidak bersekolah khusus, tetapi perlu diperlakukan atau diberi bimbingan khusus agar dapat berkembang sesuai dengan kecerdasannya.

Struktur Pengetahuan dan Tahap Perkembangan Kognitif
 Istilah “kognitif” mulai dikemukakan pada awal tahun 60-an ketika teori Piaget ditulis dan dibicarakan. Pengertian kognitif meliputi aspek struktur intelek yang dipergunakan untuk mengetahui sesuatu, dan di dalamnya terdapat aspek: persepsi, ingatan, pikiran, simbol, penalaran dan pemecahan persoalan.  Perkembangan kognitif merupakan proses dan hasil interaksi dinamis  individu dengan lingkungannya. Ketika bekerja di laboratorium Binet-Simon yang menyelenggarakan tes intelegensi, Piaget tertarik pada jawaban-jawaban salah yang diberikan anak-anak  lebih muda usianya. Piaget menyadari adanya jawaban yang selalu menetap dan khusus diperlihatkan berdasarkan hasil cara berpikir anak yang berbeda dengan orang dewasa. Sejak itu ia tertarik dan menghabiskan waktu cukup lama untuk mempelajari cara berpikir anak, sampai akhirnya menemukan teori perkembangan kognitif.
 Pembentukan struktur pengetahuan dikembangkan berdasarkan konsep dasar teori kognitif Piaget yang ditemukan berkenaan dengan adanya urutan yang sama dalam perkembangan kognitif anak, tetapi ada perbedaan dalam waktu seseorang mencapai tahap perkembangan kognitif tertentu. Selain itu, ketika orang atau anak belajar dan berinteraksi dengan lingkungannya, ia  melihat adanya sistem yang mengatur dari dalam diri anak yang cenderung menetap. Sistem itu kemudian dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan. Sistem yang mengatur dari dalam mempunyai dua faktor, yakni: (1) skema yang diperlihatkan dengan adanya pola teratur yang melatarbelakangi tingkah laku seseorang, serta (2) adaptasi atau penyesuaian terhadap lingkungan yang dilakukan melalui proses asimilasi, yang berarti integrasi antara elemen-elemen dari luar terhadap struktur yang ada pada diri individu, dan proses akomodasi yang berarti perubahan pada individu agar dapat menyesuaikan diri terhadap objek yang ada di luar dirinya. 
Kedua proses asimilasi dan akomodasi terjadi bersamaan dan saling melengkapi (komplementer) dalam pembentukan struktur pengetahuan seseorang. Semakin berkembang struktur pengetahuan seseorang ke arah kematangan, semakin lebih banyak terjadi akomodasi. Dengan adanya adaptasi melalui asmilasi maupun akomodasi, maka individu mencapai keseimbangan (equilibrium) untuk sementara waktu. Adaptasi terjadi selama manusia berinteraksi dengan lingkungan. Hal itu berlangsung terus untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi. Berdasarkan konsep dasar ini, yang terjadi pada semua penahapan perkembangan kognitif ditemukan adanya hukum atau pola yang berlaku dalam tahapan perkembangan kognitif.
 Piaget membagi tahap perkembangan kognitif ke dalam empat tahap, yaitu tahap sensorimotor, tahap pra-operasional, tahap konkret operasional, dan tahap formal operasional.
1.
 Tahap 1:  Sensorimotor (0-2 tahun). Pada tahap ini anak menggunakan penginderaan dan aktivitas motorik untuk mengenal lingkungannya. Diawali dengan modifikasi refleks yang semakin lebih efisien dan terarah, dilanjutkan dengan reaksi pengulangan gerakan yang menarik pada tubuhnya dan keadaan atau objek yang menarik, koordinasi reaksi dengan cara menggabungkan beberapa skema untuk memperoleh sesuatu, reaksi pengulangan untuk memperoleh hal-hal yang baru, serta permulaan berpikir dengan adanya ketetapan objek. Pada masa sensorimotor, berkembang pengertian bahwa dirinya terpisah dan berbeda dengan lingkungannya. Anak berusaha mengkoordinasikan tindakannya dan berusaha memperoleh pengalaman melalui eksplorasi dengan indera dan gerak motorik. Jadi, perkembangan skema kognitif anak dilakukan melalui gerakan refleks, motorik, dan aktivitas indera. Selanjutnya, anak juga mulai mampu mempersepsi ketetapan objek.
2.
 Tahap 2: Pra-Operasional (2-7 tahun). Pada fase ini anak belajar mengenal lingkungan dengan menggunakan simbol bahasa, peniruan, dan permainan. Anak belajar melalui permainan dalam menyusun benda menurut urutannya dan mengelompokan sesuatu.  Jadi, pada masa pra-operasional anak mulai menggunakan bahasa dan pemikiran simbolik. Mereka mulai mengerti adanya hubungan sebab-akibat meskipun logika hubungannya belum tepat, mampu mengemukakan alasan dalam menyatakan pendapat atau ide, mulai dapat mengelompokan sesuatu, serta perbuatan rasionalnya belum didukung oleh pemikiran tetapi oleh perasaan.
3.
 Tahap 3:  Konkret Operasional (7-11 tahun). Pada masa ini anak sudah bisa melakukan berbagai macam  tugas mengkonservasi angka melalui tiga macam proses operasi, yaitu: 
                        a.
 negasi sebagai kemampuan anak dalam mengerti proses yang terjadi di antara kegiatan dan memahami hubungan antara keduanya; 
b.
 resiprokasi sebagai kemampuan untuk melihat hubungan timbal balik; serta
c.
 identitas dalam mengenali benda-benda yang ada. 

Dengan demikian,  pada tahap ini anak sudah mampu berpikir konkret dalam memahami sesuatu sebagaimana kenyataannya,  mampu mengkonservasi angka, serta  memahami konsep melalui pengalaman sendiri dan lebih objektif.


4.
 Tahap 4:  Formal Operasional (11 tahun – dewasa). Pada fase ini  anak sudah dapat berpikir abstrak, hipotetis, dan sistematis mengenai sesuatu yang abstrak dan memikirkan hal-hal yang akan  dan mungkin terjadi. Jadi, pada tahap ini anak sudah mampu meninjau masalah dari berbagai sudut pandang dan mempertimbangkan alternatif/kemungkinan dalam memecahkan masalah, bernalar berdasarkan hipotesis,  menggabungkan sejumlah informasi secara sistematis, menggunakan rasio dan logika dalam abstraksi, memahami arti simbolik, dan membuat perkiraan di masa depan..

 
Dengan mengetahui tahap perkembangan kognitif tersebut, diharapkan orang tua dan guru dapat mengembangkan kemampuan kognitif dan intelektual anak dengan tepat sesuai dengan usia perkembangan kognitifnya. Peserta didik usia SD/MI, misalnya, berada pada tahap konkret operasional. Untuk mengembangkan kemampuan koginitifnya, terutama pembentukan pengertian dan konsep, dilakukan dengan menggunakan benda-benda konkret atau menggunakan alat peraga dalam pembelajaran. 
 Menurut Hurlock (1990), konsep pada anak memiliki ciri-ciri berikut.
1.
 Konsep bersifat individual. Tidak ada dua anak yang mempunyai kemampuan kecerdasan dan pengalaman belajar yang persis sama. Namun demikian, latihan dan nilai-nilai yang serupa akan membimbing anak ke arah konsep yang serupa.
2.
 Perkembangan konsep mengikuti suatu pola seperti konsep baru dikaitkan dengan yang telah ada, konsep berkembang dari yang sederhana menjadi kompleks, dari konkret menjadi abstrak, tergantung pada intelegensi anak dan kesempatan belajar.
3.
 Konsep mempunyai hubungan yang bersifat hierarkis yang menunjukkan adanya kesadaran bahwa benda mempunyai persamaan dan perbedaan.
4.
 Konsep berkembang secara bertahap dari sesuatu yang tidak terlalu jelas menjadi semakin jelas dengan menemukan perbedaannya, tetapi ada juga yang berkembang dari spesifik menjadi umum dengan cara menemukan persamaan sesuatu berdasarkan pengalaman.
5.
 Konsep mempunyai muatan emosional khususnya saat arti baru dan arti lama digabungkan.
6.
 Konsep sering bertahan terhadap perubahan sampai ditemukan konsep baru yang lebih baik dan memuaskan.
7.
 Konsep mempengaruhi perilaku seseorang dalam melakukan penyesuaian diri pribadi dan sosial.



Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Intelek
 Peserta didik usia SD/MI senantiasa dihadapkan pada pelbagai pengalaman di dalam dan di luar rumah atau sekolah dalam kehidupan sehari-harinya. Anak-anak dengan usia dan tingkat perkembangan kognitif yang sama dan melihat objek yang sama, dapat memiliki persepsi yang berbeda tentang objek tersebut. 
Ada beberapa faktor yang turut menentukan dan mempengaruhi perkembangan intelek (dalam hal ini pembentukan pengertian dan konsep) anak. Di antaranya adalah sebagai berikut.
1.
 Kondisi organ pengindraan sebagai saluran yang dilalui kesan indera dalam perjalanannya ke otak (kesadaran). Misalnya konsep benda yang ditangkap atau dipersepsi anak yang buta warna akan berbeda dengan yang punya penglihatan normal.
2.
 Intelegensi atau tingkat kecerdasan mempengaruhi kemampuan anak untuk mengerti atau memahami sesuatu.
3.
 Kesempatan belajar yang diperoleh anak.
4.
 Tipe pengalaman  yang didapat anak secara langsung akan berbeda jika anak mendapat pengalaman secara tidak langsung dari orang lain atau informasi dalam buku, film, dsb.
5.
 Jenis kelamin, karena pembentukan konsep anak laki-laki atau perempuan  sejak kecil telah dilatih dengan cara yang dianggap sesuai dengan jenis kelaminnya.
6.
 Kepribadian anak dalam memandang kehidupan dan menggunakan suatu kerangka acuan berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan berdasarkan pada penyesuaian diri dan cara pandang anak terhadap dirinya sendiri (konsep diri). 

Beberapa konsep umum pada anak adalah konsep mengenai kehidupan dan kematian, konsep kausalitas atau hubungan sebab-akibat, konsep ruang, konsep bilangan, konsep waktu, konsep nilai uang, konsep keindahan dan kecantikan, konsep lucu gembira dan senang, konsep moral (baik/buruk atau benar/salah), konsep diri (akan dibahas lebih lanjut pada akhir subunit 4), serta konsep sosial, termasuk konsep  teman dan kelas sosial.

 Dalam perkembangan intelek, dapat juga terjadi kendala dan bahaya seperti berikut ini yang mempengaruhi perkembangan anak secara keseluruhan. 
1.
 Kelambanan perkembangan otak yang dapat mempengaruhi kemampuan  bermain dan belajar di sekolah serta penyesuaian diri dan sosial anak. Terjadinya kelambanan biasanya disebabkan oleh tingkat kecerdasan di bawah normal dan kurangnya mendapat kesempatan mendapat pengalaman.
2.
 Konsep yang keliru dan salah yang disebabkan oleh informasi yang salah, pengalaman terbatas, mudah percaya, penalaran keliru, dan imajinasi yang sangat beperan, pemikiran tidak realistis, serta salah menafsirkan arti.
3.
 Kesulitan dalam membenarkan konsep yang salah dan tidak realistik. Hal ini biasanya berkenaan dengan konsep diri dan sosial, yang kadang mengakibatkan kebingungan pada anak sehingga  menghambat penyesuaian diri dan sosial anak.

 
Latihan
Nah, Saudara, baru saja Anda selesai mempelajari sajian tentang perkembangan intelek anak. Kini, untuk memantapkan pemahaman Anda, kerjakan latihan di bawah ini.
1.
 Jelaskan bagaimana terbentuknya konsep/pengertian/struktur kognitif!
2.
 Apa implikasi  tahap perkembangan kognitif (Piaget) dalam pembelajaran?
3.
 Jelaskan empat faktor/kondisi yang mempengaruhi perkembangan intelek! 


Sudah selesai? Selanjutnya, bandingkan jawaban Anda dengan rambu-rambu  jawaban latihan di bawah ini.
1.
 Struktur kognitif terbentuk berdasarkan hasil interaksi individu dengan lingkungan-nya, dalam upaya melakukan penyesuaian (adaptasi), yang dapat dilakukan dengan cara mengubah diri sesuai dengan tuntutan lingkungan (akomodasi) atau mengubah/ mempengaruhi lingkungan sesuai dengan keadaan dirinya
2.
 Dengan mengetahui tahap perkembangan kognitif, guru lebih mengetahui cara anak belajar dan berpikir sehingga dapat memperhatikan materi dan cara mengajar guru dengan cara belajar sisiwa. Misalnya, anak SD yang berada pada tahap konkret operasional dapat belajar hal-hal konkret dan dengan menggunakan alat peraga
3.
 Faktor yang mempengaruhi perkembangan intelek antara lain: kondisi dan kelengkapan alat indra, tingkat kecerdasan, pengalaman yang diperolah sebelumnya, serta motivasi atau dorongan ingin tahu.


Rangkuman














Tes Formatif  1 
Kerjakanlah tes formatif berikut dengan memilih salah satu alternatif jawaban yang paling tepat.   
1.  Peserta didik usia SD/MI menurut Piaget berada pada tahap ............
     A. praoperasional    C. konkret operasional
     B.  sensorimotor    D.  formal operasional
2.  Kecerdasan intelektual merupakan kemampuan potensial yang terdiri dari beberapa faktor, kecuali:
 A. general factors    C. multiple factors

Intelek adalah kemampuan psikis yang relatif menetap dalam proses berfikir untuk membuat hubungan tanggapan, serta kemampuan memahami, menganalisis, mensin-tesis, dan mengevaluasi. Perkembangan intelek dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti: kondisi alat indra, tingkat kecerdasan, kesempatan belajar, tipe pengalaman, jenis kelamin, konsep diri. Kecerdasan (IQ) pada umumnya dapat diklasifikasikan atas: genius (>140), sangat cerdas 130-139), cerdas (120-129), di atas normal (110-119), normal (90-109), di bawah normal (80-89), bodoh (70-79), debil (50-69), imbecil (25-49), dan idiot (<24).


Struktur pengetahuan  merupakan  susunan pengetahuan yang dibentuk berdasarkan skema kognitif (kerangka kognitif/berpikir) dan adaptasi/penyesuaian melalui akomodasi (penyesuaian dari dalam) dan/atau asimilasi (penyesuaian dari luar). Keadaan struktur pengetahuan tak dapat dilepaskan dari tahap perkembangannya. Piaget membagi tahap perkembangan kognitif atas empat tahap, yaitu tahap sensorimotor, praoperasional, konkret operasional, da formal operasional.
Bahasa merupakan media komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan pesan dengan menggunakan simbol-simbol yang disepakati bersama dalam masyarakat. Karena bahasa adalah media komunikasi, maka anak belajar berbahasa agar memiliki kemampuan tersebut. Kemampuan berbahasa itu kerap disebut pula dengan keterampilan berbahasa, yang terdiri atas: keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.
 B.  special factors    D. common factors
3. Kecerdasan intelektual seseorang dengan kategori normal berada pada IQ dengan rentangan .......
      A. 50 – 69     C.   90 – 109
 B. 70 – 89     D.  110 - 120 
4. Dalam proses pembentukan struktur pengetahuan/pengertian dan konsep, dilakukan penyesuaian diri dengan mengubah kondisi lingkungan disebut .......
 A.  skema kognitif    C.  akomodasi
 B.   adaptasi    D.  asimilasi
5. Pembelajaran melalui permainan (learning by playing) cocok diberikan kepada anak yang berada pada tahap perkembangan kognitif .......
      A.   sensorimotor    B. konkret operasional
      B.   praoperasional   C. formal operasional

Umpan Balik Dan Tindak Lanjut

Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif 1 yang terdapat pada bagian akhir unit ini. Setiap nomor jawaban yang benar mendapat skor 10. Jumlahkan skor yang benar, kemudian gunakan rumus berikut ini.
Rumus:      Jumlah skor jawaban yang benar 
Tingkat penguasaan:  -----------------------------------------   x   100 %
      50
Arti tingkat penguasaan yang Anda capai:
 90 – 100 = baik sekali
 80 – 89 = baik
 70 – 79 = cukup
      < 70 = kurang

Apabila penguasaan Anda mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan kegiatan pembelajaran di subunit berikutnya. Jika masih di bawah 80%, Anda sebaiknya mempelajarinya kembali, terutama bagian yang belum dikuasaiSubunit 2

Perkembangan Bahasa

ahasa merupakan media komunikasi yang digunakan untuk mengungkapkan pesan dengan menggunakan simbol-simbol bahasa yang disepakati bersama. Dengan mempelajari perkembangan bahasa anak, Anda diharapkan dapat berkomunikasi dengan peserta didik secara efektif, serta memahami aspek perkembangan anak mengenai apa yang dirasakan dan diinginkan mereka melalui pengungkapannya melalui media bahasa.  Melalui subunit perkembangan bahasa ini, marilah kita kaji tentang pengertian, fungsi dan keterampilan bahasa, pola perkembangan bahasa anak, serta faktor/kondisi dan kendala dalam mempelajari keterampilan berbahasa  pada peserta didik usia SD/MI. 

Pengertian, Fungsi, dan Keterampilan Berbahasa 
Menurut para ahli, bahasa merupakan  media komunikasi  yang digunakan untuk menyampaikan pesan (pendapat, perasaan, dll)  dengan menggunakan simbol-simbol yang disepakati bersama, kemudian kata dirangkai berdasarkan urutan membentuk kalimat yang bermakna, dan mengikuti  aturan atau tata bahasa yang berlaku dalam suatu komunitas atau masyarakat (Sinolungan, 1997; Semiawan, 1998). Sebagai media atau alat komunikasi, bahasa dibedakan atas bahasa lisan, bahasa tertulis, dan bahasa isyarat. Menurut Owen 1996 (Semiawan, 1989) bahasa sebagai sistem yang kompleks dapat dipahami dengan baik apabila dipilah-pilah ke dalam komponen-komponen yang fungsional. 
Ada tiga komponen utama bahasa yaitu: (1) bentuk atau form yang mencakup sintaksis, morfologi, dan fonologi; (2) isi atau content yang meliputi makna atau semantik; dan (3) penggunaan atau use yang mencakup pragmatik. Dengan kata lain, di dalam bahasa terkandung lima elemen,  yaitu: fonologi,morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik. Morfologi berkenaan dengan organisasi kata-kata secara internal, ada kata yang dapat berdiri sendiri (buku, anak, sekolah, dll) dan tidak dapat berdiri sendiri (awalan ber, me , di dll). Sintaksis berkenaan dengan aturan-aturan dalam pembentukan kata dan kalimat (memiliki subjek, predikat, dan objek). Fonologi berkenaan dengan ketentuan yang mengatur struktur, distribusi dan urutan bunyi, serta bentuk ucapan. Semantik berkenaan dengan sistem aturan yang mengendalikan makna isi kata atau kalimat. Pragmatik berkenaan dengan penggunaan bahasa yang dikaitkan dengan tujuan tertentu.  
Keterampilan berbahasa memiliki empat aspek atau ruang lingkup yaitu keterampilan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Keterampilan mendengarkan di sekolah dasar meliputi kemampuan memahami bunyi bahasa, perintah, dongeng, drama, petunjuk, denah, pengumuman, berita, dan konsep materi pelajaran.   Keterampilan berbicara meliputi kemampuan mengungkapkan pikiran, perasaan dan informasi secara lisan mengenai perkenalan, tegur sapa, pengenalan benda, fungsi anggota tubuh, kegiatan bertanya, percakapan, bercerita, deklamasi, memberi tanggapanpendapat/saran, dan diskusi. Keterampilan membaca meliputi keterampilan memahami teks bacaan melalui membaca nyaring, membaca lancar, membaca puisi, membaca dalam hati, membaca intensif dan sekilas. Keterampilan menulis meliputi kemampuan menulis permulaan, dikte, mendeskripsikan benda, mengarang,  menulis surat, undangan, dan ringkasan paragraf (Depdiknas, 2006).
Karena bahasa digunakan sebagai alat atau media komunikasi dengan sesama manusia, maka perkembangan kemampuan berbahasa turut mempengaruhi penyesuaian sosial dan pribadi anak.  Dengan dapat berbahasa khususnya berbicara, maka anak dapat mengungkapkan kebutuhan dan keinginannya, mendapat perhatian dari orang lain, menjalin hubungan sosial  sekaligus penilaian sosial dari orang lain, dapat menilai diri sendiri berdasarkan masukan atau penilaian orang lain terhadap dirinya, serta mempengaruhi perasaan, pikiran dan perilaku orang lain.
Perkembangan kemampuan atau keterampilan bahasa erat kaitannya dengan perkembangan kemampuan berpikir seseorang. Komunikasi berarti pertukaran pikiran dan perasaan. Agar dapat berkomunikasi dengan baik, maka anak harus menggunakan bahasa yang bermakna bagi orang yang diajak berkomunikasi. Sebaliknya, anak pun harus memahami bahasa yang digunakan orang lain. Oleh karena itu diperlukan kemampuan berbahasa yang jelas dan dapat dipahami oleh orang lain. Pikiran dan perasaan yang ingin diungkapkan, diekspresikan dengan menggunakan bahasa sebagai sarananya. Berbicara juga berkenaan dengan pemahaman terhadap apa yang dikatakan atau dibicarakan. Apabila anak tidak dapat menggunakan bahasa dengan baik dan jelas, maka ia akan mengalami kesulitan mengungkapkan apa yang dipikir dan dirasakannya. Demikian juga, apabila pikiran anak kacau, maka bahasa yang  digunakan juga kacau. Belajar berkomunikasi dengan menggunakan bahasa  secara lisan, tulisan, maupun isyarat merupakan suatu proses yang panjang dan rumit,. Kegiatan belajar bahasa ini akan  efektif apabila anak siap atau matang untuk belajar bahasa.  
    


Pola Perkembangan Bahasa Anak
 Perkembangan bahasa anak sebagai alat atau media komunikasi telah dimulai sejak. Bentuk bahasa atau prabicara yang paling sederhana dan digunakan pada masa bayi dengan ”menangis” untuk mengungkapkan perasaan dirinya kepada oarang lain, kemudian berkembang dalam bentuk ”celoteh atau ocehan” dengan cara mengeluarkan bunyi yang belum jelas. Kemudian, dilanjutkan dengan menggunakan isyarat melalui gerakan anggota badan yang berfungsi sebagai pengganti atau pelengkap bicara. Apabila anak sudah siap atau matang untuk belajar berbicara, maka sebaiknya tidak lagi menggunakan bentuk komunikasi prabicara karena akan mmenghambat perkembangan belajar berbahasa pada anak, sekaligus merugikan penyesuaian pribadi dan sosial anak. Anak dikatakan siap atau matang berbicara dan belajar bahasa apabila aspek motorik bicara (koordinasi otot bicara)  dan aspek mental bicara (kemampuan berpikir) anak sudah mulai berfungsi dengan baik. Berbicara atau kegiatan berbahasa lainnya merupakan keterampilan yang dapat dipelajari. 
Pola belajar bicara dan berbahasa untuk semua anak pada umumnya sama, meskipun laju perkembangannya berbeda. Pola perkembangan bicara hampir sejalan dengan perkembangan motorik. Sekitar usia satu tahun, biasanya anak mulai belajar berjalan sekaligus belajar bicara. Tugas pertama belajar bahasa adalah mengucapkan kata yang didengar dengan cara meniru pengucapan kata orang-orang di sekitarnya. 
Pada saat anak mulai masuk sekolah, di mana hasrat untuk belajar dan ingin tahu besar, merupakan masa yang paling baik untuk belajar bahasa. Anak selalu bertanya mengenai segala yang dilihat dan ditemui dalam kehidupan sehari-harinya. Anak mulai membangun kosa kata atau menambah perbendaharaan kata-katanya. Kosa kata anak biasanya kata-kata yang merupakan kata benda, kata kerja, kata sifat, kata keterangan, kata perangkai atau pengganti dari apa saja yang dijumpai anak dalam kehidupan sehari-hari, khususnya mengenai warna, waktu, uang, dan kata populer yang digunakan kelompok anak atau teman sebaya. Selanjutnya perkembangan bahasa dengan pembentukan kalimat, dimulai dari kalimat sederhana yang belum lengkap menjadi kalimat yang semakin lengkap.    
Semakin awal anak dapat bicara, maka semakin banyak waktu berlatih yang mereka peroleh untuk berlatih bicara, dan semakin besar pula kemudahan mereka berbicara dan meningkatkan rasa percaya dirinya. Anak yang terlambat bicara, biasanya juga mengalami hambatan dalam penyesuaian diri dan sosialnya. Ketika anak mulai dapat berbicara, mereka hampir berbicara tidak putus-putusnya. Anak bukan hanya berbicara dengan orang lain, kadang mereka bicara dengan dirinya sendiri atau berbicara dengan boneka atau alat permainannya. 
Seiring dengan pertambahan usia anak, kemampuan berbicara atau berbahasanya semakin baik. Anak membicarakan banyak hal berkenaan dengan kegiatan bermain, belajar, dan kegiatan lain yang disenanginya. Isi pembicaraan anak pada umumnya dapat diklasifikasikan menjadi dua. Pertama, kegiatan berbicara yang berpusat pada diri sendiri (egosentik), meskipun anak itu sedang berada dalam kelompok. Anak tipe ini lebih banyak berbicara bagi kesenangan dan yang berhubungan dengan dirinya sendiri. Ia cenderung mendominasi pembicaraan dan kurang berminat dan sulit mendengarkan dan menerima pendapat orang lain. Kedua, kegiatan berbicara yang berpusat pada orang lain (sosialisasi). Anaktipe ini cenderung menyesuaikan isi dan cara berbicaranya dengan orang yang sedang berinteraksi dengannya. Anak mampu berkomunikasi dan melibatkan diri dengan kegiatan sosial sehingga menjadi anak yang disenangi.
Owen (Semiawan, 1998) menjelaskan perkembangan bahasa (pragmatik dan semantik) anak pada usia sekolah dasar. Menurutnya, anak usia 5 tahun sangat sering menggunakan bahasa untuk mengajukan permintaan, mengulang untuk perbaikan, mulai membicarakan topik-topik gender. Anak usia 6 tahun mengulang dengan cara elaborasi untuk perbaikan, dan menggunakan kata-kata keterangan. Anak usia 7 tahun mengguna-kan dan memahami sebagian istilah dan membuat plot naratif yang mempunyai pengantar dan akhir dari topik yang mau diungkapkan. Anak usia 8 tahun menggunakan topik-topik yang konkret, mengenal makna nonliteral dalam bentuk permintaan langsung, dan mulai mempertimbangkan maskud lainnya. Pada usia 9 tahun, anak  memelihara topik melalui beberapa perubahan.
Perkembangan bahasa menjadi berkurang (sedikit berbicara) pada anak yang mendekati masa puber dan dewasa. Pada masa puber terjadi perubahan fisik yang sangat cepat dan dihadapkan pada masalah yang dipikirkan orang dewasa. 
      
Faktor dan Kendala dalam Mempelajari Keterampilan Berbahasa
 Walaupun pola perkembangan keterampilan berbahasa anak pada umumnya sama, tetapi tetap ada  perbedaan individual, terutama dalam laju perkembangan dan frekuensi atau banyaknya bicara, serta isi atau topik  pembicaraan. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor berikut. 
1.
 Kesehatan:  Anak yang sehat lebih cepat belajar berbicara dibandingkan dengan anak yang kurang sehat atau sering sakit. Hal ini dikarenakan perkembangan aspek motorik dan aspek mental berbicaranya lebih baik sehingga lebih siap untuk belajar berbicara. Motivasi berbahasa didorong oleh keinginan untuk menjadi anggota kelompok sosial dan berkomunikasi dengan anggota kelompok tersebut.  
2.
  Kecerdasan: Anak yang memiliki kecerdasan tinggi, akan belajar berbicara lebih cepat dan memiliki penguasaan bahasa yang lebih baik daripada anak yang tingkat kecerdasannya rendah. Belajar bahasa erat kaitannya dengan kemampuan berpikir. Bahasa mengungkapkan apa yang dipikirkan anak.
3.
 Jenis kelamin: Anak perempuan lebih baik dalam belajar bahasa daripada anak laki-laki, baik dalam pengucapan, kosa kata, dan tingkat keseringan berbahasa, daripada anak laki-laki.
4.
 Keluarga (jumlah anggota keluarga, urutan kelahiran, dan metode latihan berbicara). Semakin banyak jumlah anggota keluarga, akan semakin sering anak mendengar dan  berbicara. Demikian juga, anak pertama lebih baik perkembangan berbicaranya karena orang tua lebih banyak mempunyai waktu untuk mengajak dan melatih mereka berbicara.
5.
 Keinginan dan dorongan untuk berkomunikasi serta hubungan dengan teman sebaya. Semakin kuat keinginan dan dorongan berkomunikasi dengan orang lain, terutama bermain dengan teman sebaya, akan semakin kuat pula usaha anak untuk berbicara atau berbahasa.
6.
 Kepribadian: Anak yang dapat menyesuaikan diri dengan baik cenderung memiliki kemampuan berbicara atau berbahasa lebih baik daripada anak yang mengalami masalah atau kendala dalam penyesuaian diri dan sosial. Kemampuan berbahasa anak yang memiliki kepribadian dan penyesuaian diri yang baik juga akan lebih baik secara kuantitas (jumlah kata dan keseringan bicara) maupun secara kualitas (ketepatan pengucapan dan isi/topik pembicaraan).

Hambatan atau kesulitan perkembangan bahasa terjadi apabila anak tidak meninggalkan kebiasaan berbicara pada masa anak awal. Akibatnya, anak mengalami keterlambatan berbicara. Pada gilirannya, anak menjadi kurang percaya diri dan merasa tidak mampu, sehingga mempengaruhi penyesuaian diri dan sosialnya. Demikian juga, tipe anak yang berbicara secara egosentrik dapat mengakibatkan anak menjadi semakin tertutup dan sulit melakukan penyesuaian sosial. Masalah lain berupa ketunawicaraan  atau cacat bicara yang terjadi pada anak. Ia tidak dapat atau sulit berbicara, mengucapkan kata dengan benar dan jelas. Ada juga anak yang mengalami kerancuan berbicara seperti penggantian bunyi huruf; bicara tidak jelas karena tidak berfungsinya bibir, lidah dan rahang dengan baik; serta gagap atau berbicara terlalu cepat dan membingungkan, karena otot bicara dengan otak kurang koordinasi mengenai apa yang ingin dibicarakan. Selain hambatan tersebut, akhir-akhir ini juga muncul masalah sehubungan kedwibahasaan yang dapat membuat anak menjadi bingung, sehingga mengalami kesulitan dalam penyesuaian sosial dan pembelajaran di sekolah.
Berkenaan dengan perkembangan bahasa anak, orang tua di rumah maupun guru di sekolah perlu memahami pola perkembangan bahasa anak, serta peka terhadap masalah yang mengganggu perkembangan bahasa anak. Dengan cara ini, anak akan sedini mungkin diberikan bantuan dan bimbingan yang tepat. Potensi anak untuk berbahasa memerlukan waktu, kesabaran, dan dukungan dalam proses pembelajaran dan pelatihan  berbahasa. Biasakan anak menggunakan bahasa yang baik dan benar. Berikan  mereka dorongan agar berani berbicara dan memiliki kebiasaan membaca serta menulis yang baik dan benar.


Latihan
 Nah, Saudara, baru saja Anda selesai mempelajari kajian tentang perkembangan bahasa anak. Kini, untuk memantapkan pemahaman Anda, kerjakan latihan di bawah ini.
1.
 Jelaskan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi!
2.
 Bagaimana keterkaitan perkembangan bahasa dengan berpikir?


Jika sudah selesai, bandingkanlah jawaban Anda dengan rambu jawaban latihan di bawah ini.
1.
 Bahasa merupakan alat komunikasi. Maksudnya, bahasa digunakan untuk menyampaikan dan menerima pesan (perasaan, pendapat, dll) dengan menggunakan simbol-simbol yang disepakati bersama, baik simbol lisan, tertulis, maupun isyarat.
2.
 Fungsi bahasa adalah alat komunikasi. Ini berarti dalam berbahasa akan terjadi pertukaran informasi, perasaandan , pikiran. Untuk dapat berkomunikasi dengan baik (pesan dapat dimengerti), maka bahasa yang digunakan harus jelas, sistematis dan dapat dimengerti. Bagaimana bahasa yang digunakan seseorang mencerminkan bagaimana orang itu berpikir.


Rangkuman
















Tes Formatif 2
Kerjakan tes formatif berikut dengan melengkapi pertanyaan/pernyataan berikut.
1.
 Bahasa sebagai alat komunikasi dapat diungkapkan secara .........................................., ...............................................................,  dan ................................................................
2.
 Menurut  Owen, ada tiga komponen utama dalam bahasa yaitu ............................. ................................................................,dan............................................................
3.
 Empat keterampilan berbahasa yang dipelajari di sekolah meliputi keterampilan:  ...................................................................................................................................

4.  Pola perkembangan bahasa anak dimulai dengan kemampuan bicara yang diungkap- kan dengan kegiatan ................................................., ....................................................dan......................................................................... 
5. Kendala dalam perkembangan bahasa pada anak, antara lain ..............................................................................................................................................................


Dalam belajar bahasa, anak memulainya secara bertahap. Tahapan belajar bahasa itu terdiri atas fase: prabicara (menangis, celoteh), pengucapan kata, penggunaan kalimat sederhana  hingga yang lengkap mengenai hal-hal yang konkret dalam kehidupan sehari-hari.

Kemajuan perkembangan bahasa masing-masing anak berbeda-beda. Perbedaan itu disebabkan oleh sejumlah faktor yang mempengaruhinya, seperti: kesehatan, kecerdasan, jenis kelamin, keluarga, keinginan berkomunikasi, dan kepribadian. Anak terkendala dalam kemajuan berbahasa apabila ia tidak meninggalkan kebiasaan prabicara, egosentrik,  tunawicara dan tunarungu, tidak berfungsinya bibir lidah dan rahang dengan baik kerancuan bicara,   dan menghadapi lingkungan yang dwibahasa.. 

Biasakanlahanakberbahasabaikdanbenar.
Moral berarti perilaku yang sesuai dengan peraturan perilaku mengenai baik/buruk, benar/salah yang telah menjadi kebiasaan dan harapan suatu masyarakat. Mempelajari perkembangan moral bermanfaat untuk membantu peserta didik mengembangkan sikap moral yang dikehendaki, serta mendidiknya menjadi anak yang baik dan bersikap moral baik dan benar.

Umpan Balik Dan Tindak Lanjut

Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif 2 yang terdapat pada bagian akhir unit ini. Masing-masing nomor yang benar mendapat skor dengan rentangan 0 - 10. Jumlahkan skor yang benar, kemudian gunakan rumus  berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda dalam menguasai subunit ini..
Rumus: 
        Jumlah skor jawaban yang benar 
Tingkat penguasaan:  -----------------------------------------  x  100 %      50
Arti tingkat penguasaan yang Anda capai:
 90 – 100 = baik sekali
 80 – 89 = baik
 70 – 79 = cukup
      < 70 = kurang

Apabila penguasaan Anda mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan kegiatan pembelajaran di subunit berikutnya. Jika masih di bawah 80%, Anda sebaiknya mempelajarinya kembali, terutama bagian yang belum dikuasai   Subunit 3

Perkembangan  Moral

oral berkenaan dengan perilaku baik atau buruk pada seseorang. Pendidikan SD tidak sekedar bertujuan untuk menjadikan peserta didik menjadi manusia yang  cerdas, tetapi juga manusia yang baik. Pada bagian ini, Anda  akan mempelajari aspek perkembangan moral yang meliputi pembahasan mengenai pengertian dan manfaat mempelajari perkembangan moral anak, pola perkembangan moral menurut Kolhberg, serta faktor dan cara mempelajari sikap moral khususnya pada peserta didik usia SD/MI. Dalam mempelajari perkembangan moral, Anda dibantu dengan media video sehingga pembelajaran diharapkan menjadi lebih jelas dan terpahami dengan baik.

Pengertian dan Manfaat
 Moral berasal dari kata Latin ”mores” yang berarti tatacara, kebiasaan, dan adat. Perilaku sikap moral berarti perilaku yang sesuai dengan kode moral kelompok sosial, yang dikendalikan oleh konsep moral.  Yang dimaksud dengan konsep moral ialah peraturan perilaku yang telah menjadi kebiasaan bagi angota suatu budaya. Konsep moral inilah yang menentukan pola perilaku yang diharapkan dari seluruh anggota kelompok. 
Menurut Piaget (Sinolungan, 1997), hakikat moralitas adalah kecenderungan menerima dan menaati sistem peraturan. Selanjutnya, Kohlberg (Gunarsa, 1985) mengemukakan bahwa aspek moral adalah sesuatu yang tidak dibawa dari lahir, tetapi sesuatu yang  berkembang dan dapat diperkembangkan/dipelajari. Perkembangan moral merupakan proses internalisasi nilai/norma masyarakat sesuai dengan kematangan dan kemampuan seseorang dalam menyesuaikan diri terhadap aturan yang berlaku dalam kehidupannya. Jadi, perkembangan moral mencakup aspek kognitif yaitu pengetahuan tentang baik/buruk atau benar/salah, dan aspek afektif yaitu sikap perilaku moral mengenai bagaimana cara pengetahuan moral itu dipraktekan.
Disamping perilaku moral, ada juga perilaku tak bermoral yaitu perilaku yang tidak sesuai dengan harapan sosial karena sikap tidak setuju dengan standar sosial yang berlaku atau kurang adanya perasaan wajib menyesuaikan diri; serta perilaku amoral atau nonmoral yaitu perilaku yang tidak sesuai dengan harapan sosial karena ketidakacuhan atau pelanggaran terhadap standar kelompok sosial. 
     Sikap adalah perilaku yang berisi pendapat tentang sesuatu. Dalam sikap positif tersirat sistem nilai yang dipercayai atau diyakini kebenarannya. Nilai adalah suatu yang diyakini, dipercaya, dan dirasakan serta diwujudkan dalam sikap atau perilaku. Biasanya, nilai bermuatan pengalaman emosional masa lalu yang mewarnai cita-cita seseorang, kelompok atau masyarakat. Moral merupakan wujud absrak dari nilai-nilai, dan tampil secara nyata/konkret dalam perilaku terbuka yang dapat diamati. Sikap moral muncul dalam praktek moral dengan kategori positif/menerima, netral, atau negatif/menolak.
 Anak yang bersikap positif atau menerima nilai-nilai moral, diekspresikan dalam perilaku yang bersimpati dalam berinteraksi dengan nilai dan orang di sekitarnya, seperti mau menerima, mendukung, peduli, dan berpartisipasi dalam kegiatan kelompok. Sikap moral yang netral diekspresikan dalam perilaku sikap tidak memihak (mendukung atau menolak) terhadap nilai yang ada di masyarakat. Sikap moral yang negatif diekspresikan dalam perilaku menolak yang diwarnai emosi dan sikap negatif seperti kecewa, kesal, marah, benci, bermusuhan, dan menentang, terhadap nilai moral yang ada di masyarakat..   
 Pada sikap dan perilaku moral tersirat nilai-nilai yang dianut berkaitan dengan nilai mengenai sesuatu yang dikatakan baik dan benar, patut, dan seharusnya terjadi. Sikap moral sebagian besar diteruskan dari generasi ke generasi melalui proses pendidikan seumur hidup. Ada nilai-nilai yang perlu dipertahankan, ada yang diasimilasi ke arah kemajuan atau perubahan progresif, tetapi ada juga yang berubah atau bergeser karena berbagai faktor yang mempengaruhinya. Sebagai guru, Anda perlu memahami perkembangan sikap moral agar dapat membantu  peserta didik mengembangkan sikap moral yang dikehendaki, mendidik peserta didik menjadi anak yang baik, dan  bersikap moral  secara baik dan benar.

Pola Perkembangan  Moral
 Dalam mempelajari perkembangan sikap moral peserta didik usia sekolah, Piaget (Sinolungan, 1997) mengemukakan tiga tahap perkembangan moral sesuai dengan kajiannya pada aturan dalam permainan anak.
1.
 Fase absolut, di mana anak menghayati peraturan sebagai ssesuatu hal yang mutlak, tidak dapat diubah, karena berasal dari otoritas yang dihormati (orang tua, guru, anak yang lebih berkuasa).
2.
 Fase realistis, di mana anak menyesuaikan diri untuk menghindari penolakan orang lain. Dalam permainan, anak menaati aturan yang disepakati bersama sebagai suatu kenyataan/realitas yang dapat diubah asal disetujui bersama.
3.
 Fase subjektif, di mana anak memperhatikan motif atau kesengajaan dalam penilaian perilaku, anak menaati aturan agar terhindar dari hukuman, kemudian memahami aturan dan gembira mengembangkan serta menerapkannya.

  Dalam teori perkembangan moralnya, Kohlberg (Gunarsa, 1985) mengemukakan tiga tingkat dengan enam tahap perkembangan moral.
1.
 Tingkat 1: Prakonvensional. Pada tingkat ini aturan berisi ukuran moral yang dibuat berdasarkan otoritas. Anak tidak melanggar aturan moral karena takut ancaman atau hukuman dari otoritas. Tingkat ini dibagi menjadi dua tahap. Pertama, tahap orientasi terhadap kepatuhan dan hukuman. Pada tahap ini anak hanya mengetahui bahwa aturan-aturan itu ditentukan oleh adanya kekuasaan yang tidak bisa diganggu gugat. Anak harus menurut, atau kalau tidak, akan mendapat hukuman. Kedua, tahap relativistik hedonisme. Pada tahap ini anak tidak lagi secara mutlak tergantung pada aturan yang berada di luar dirinya yang ditentukan orang lain yang memiliki otoritas. Anak mulai sadar bahwa setiap kejadian mempunyai beberapa segi yang bergantung pada kebutuhan (relativisme) dan kesenangan seseorang (hedonisme).
2.
 Tingkat II: Konvensional. Pada tingkatan ini anak mematuhi aturan yang dibuat bersama agar diterima dalam kelompoknya. Tingkat ini juga terdiri dari dua tahap. Pertama,  tahap orientasi mengenai anak yang baik. Pada tahap ini anak mulai memperlihatkan orientasi perbuatan yang dapat  dinilai baik atau tidak baik oleh orang lain atau masyarakat. Sesuatu dikatakan baik dan benar apabila sikap dan perilakunya dapat diterima orang lain atau masyarakat. Kedua, tahap mempertahan-kan norma sosial dan otoritas. Pada tahap ini anak menunjukkan perbuatan baik dan benar bukan hanya agar dapat diterima oleh lingkungan masyarakat sekitarnya, tetapi juga bertujuan agar dapat ikut mempertahankan aturan dan norma/nilai sosial yang ada sebagai kewajiban dan tanggung jawab moral untuk melaksanakan aturan yang ada.
3.
 Tingkat III: Pasca-konvensional. Pada tingkat ini anak mematuhi aturan untuk menghindari hukuman kata hatinya. Tingkat ini juga terdiri dari dua tahap.  Pertama,  tahap orientasi terhadap perjanjian antara dirinya dengan lingkungan sosial. Pada tahap ini ada hubungan timbal balik antara dirinya dengan lingkungan sosial dan masyarakat. Seseorang mentaati aturan sebagai kewajiban dan tanggung jawab dirinya dalam menjaga keserasian hidup bermasyarakat. Kedua, tahap universal. Pada tahap ini selain ada norma pribadi yang bersifat subjektif, ada juga norma etik (baik/buruk, benar/salah) yang bersifat universal sebagai sumber menentukan sesuatu perbuatan yang berhubungan dengan moralitas.
Teori perkembangan moral yang dikemukakan Kohlberg seperti halnya Piaget menunjukkan bahwa sikap dan perilaku moral bukan hasil sosialisasi atau pelajaran yang diperoleh dari kebiasaan yang berhubungan dengan nilai kebudayaan semata-mata. Tetapi juga terjadi sebagai akibat dari aktivitas spontan yang dipelajari dan berkembang melalui interaksi sosial anak dengan lingkungannya. 
Selain teori perkembangan moral, dalam mempelajari pola perkembangan moral yang berkaitan dengan ketaatan akan suatu aturan yang berlaku universal, perlu dibahas mengenai disiplin. Disiplin berasal dari kata ”disciple” yang berarti seorang yang belajar dari/atau secara sukarela mengikuti seorang pemimpin. Disiplin diperlukan untuk membentuk perilaku yang sesuai dengan aturan dan peran yang ditetapkan dalam kelompok budaya tempat orang tersebut menjalani kehidupannya. Melalui disiplin, anak belajar untuk bersikap dan berperilaku yang baik seperti yang diharapkan oleh masyarakat lingkungannya. Disiplin dapat ditanamkan secara otoriter melalui pengendali-an perilaku dengan menggunakan hukuman, secara permisif/laissezfaire melalui kebebas-an yang diberikan kepada anak tanpa adanya hukuman, atau secara demokratis melalui penjelasan, diskusi, dan penalaran mengenai aturan yang berlaku. 
Unsur yang berkaitan dengan disiplin adalah sebagai berikut.
1.
 Peraturan sebagai pola yang ditetapkan untuk perilaku di mana anak hidup, mempunyai nilai pendidikan tentang arah yang harus diikuti dan ditaati anak, dan juga membantu mengekang perilaku  yang tidak diinginkan.
2.
 Hukuman diberlakukan apabila anak melakukan kesalahan ataupun bertindak yang tidak sesuai dengan nilai/norma yang berlaku dalam masyarakat. Hukuman dapat menghalangi anak untuk tidak mengulangi perbuatan yang tidak diinginkan, mendidik anak untuk belajar dari pengalaman, dan memotivasi anak untuk menghindari perilaku yang tidak diterima oleh masyarakat.
3.
 Penghargaan diberikan apabila anak melakukan sesuatu yang sesuai dengan norma/nilai yang berlaku, mendidik dan memotivasi anak untuk mengulangi perilaku yang baik dan benar sesuai harapan masyarakat.
4.
 Konsistensi atau keajegan dalam melaksanakan aturan dan disiplin sehingga tidak membingungkan anak dalam mempelajari sesuatu yang benar/salah atau baik/buruk. Disiplin bermanfaat apabila ada pengaruh disiplin terhadap perilaku, menimbulkan kepekaan akan sikap perilaku yang baik, benar, dan adil, serta mempengaruhi kepribadian anak di mana sikap perilaku disiplin merupakan bagian yang terinternali-sasi pada anak secara keseluruhan.



Faktor dan Cara Mempelajari SikapMoral
Ada sejumlah faktor penting yang mempengaruhi perkembangan moral anak (Hurlock, 1990). 
1.
 Peran hati nurani atau kemampuan untuk mengetahui apa yang benar dan salah apabila anak dihadapkan pada situasi yang memerlukan pengambilan keputusan atas tindakan yang harus dilakukan.
2.
 Peran rasa bersalah dan rasa malu apabila bersikap dan berperilaku tidak seperti yang diharapkan dan melanggar aturan.
3.
 Peran interaksi sosial dalam memberi kesempatan pada anak untuk mempelajari dan menerapkan standar perilaku yang disetujui dalam masyarakat, keluarga, sekolah, dan dalam pergaulan dengan orang lain

Sikap dan perilaku moral dapat dipelajari dengan cara berikut.
1.
 Belajar melalui coba-ralat (trial and error). Anak mencoba belajar mengetahui apakah perilakunya sudah memenuhi standar sosial dan persetujuan sosial atau belum. Bila belum, maka anak dapat mencoba lagi sampai suatu ketika secara kebetulan dapat berperilaku sesuai dengan yang diharapkan.
2.
 Pendidikan langsung yang dilakukan dengan cara anak belajar memberi reaksi tertentu secara tepat dalam situasi tertentu, serta dilakukan dengan cara mematuhi peraturan yang berlaku dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat sekitar.
3.
 Identifkasi dengan orang yang dikaguminya. Cara ini biasanya dilakukan secara tidak sadar dan tanpa tekanan dari orang lain. Yang penting ada teladan dari orang yang diidentifikasikan untuk ditiru perilakunya. 

Pendidikan saat ini umumnya mempersiapkan peserta didik memiliki banyak pengetahuan, tetapi tidak tahu cara memecahkan masalah tertentu yang dihadapi dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari. Pendidikan lebih mempersiapkan peserta didik untuk menjadi anak yang pandai dan cerdas, tetapi kurang mempersiapkan peserta didik untuk menjadi anak yang baik. Masalah berkenaan dengan baik dan buruk menjadi kajian bidang moral. Demikian juga dalam mengembangkan aspek moral peserta didik berarti bagaimana cara membantu peserta didik untuk menjadi anak yang baik, yang mengetahui dan berperilaku atau bersikap berbuat yang baik dan benar. Sikap dan perilaku moral dapat dikembangkan melalui pendidikan dan penanaman nilai/norma yang dilakukan secara terintegrasi dalam pelajaran maupun kegiatan yang dilakukan anak di keluarga dan sekolah. Pendidikan bukan hanya mempesiapkan anak menjadi manusia cerdas, tetapi juga menjadi manusia yang baik, berbudi luhur, dan berguna bagi orang lain. 


Latihan
Saudara, demikianlah kajian tentang perkembangan moral. Selanjutnya, mantapkan pemahaman Anda dengan mengerjakan latihan berikut ini. 
1.
 Bagaimana penggunaan hukuman dan penghargaan dalam pembentukan disiplin dan pengembangan sikap moral anak?
2.
 Bagaimana cara mempelajari dan mengembangkan sikap moral anak? Berikan contohnya!


Untuk menilai apakah penguasaan Anda sudah baik atau belum, silakan banding-kan jawaban Anda dengan rambu-rambu jawaban latihan di bawah ini.
1.   Hukuman diberikan apabila sikap perilaku anak tidak sesuai dengan harapan sosial dan  norma yang berlaku, sehingga anak tidak mengulangi perbuatannya. Sebaliknya, hadiah dapat diberikan apabila sikap perilaku anak sesuai dengan harapan sosial dan norma yang berlaku. Pada tahap perkembangan moral awal, disiplin dapat dipelajari  melalui hukuman – hadiah/ganjaran, tetapi sebaiknya semakin meningkat usia anak, diharapkan kesadaran moral semakin tinggi sehingga terbentuk disiplin diri.
2. Pengembangkan sikap moral dapat dilakukan melalui: belajar coba ralat, pendidikan langsung, dan identifikasi. Dengan belajar melalui coba dan ralat, anak belajar sikap menyenangkan orang lain sampai akhirnya menemukan bentuk sikap perilaku yang tepat untuk menyenangkan orang lain. Pendidikan langsung dilakukan dengan cara diberi tahu perbuatan atau sikap mana yang benar/baik dan yang salah/buruk. Identifikasi terjadi melalui teladan atau contoh yang diberikan orang dewasa/guru sehingga anak dapat mempelajari berbagai sikap moral yang baik 
 
Rangkuman












Tes Formatif 3
Kerjakanlah tes formatif berikut dengan memilih salah satu alternatif jawaban yang paling tepat.   
1.
 Anak yang melanggar peraturan dan disiplin sebaiknya dihukum agar .........
A. jera dan tidak mengulangi perbuatannya C. dikucilkan/diasingkan
B. merasa sakit dan menderita   D. mengakui otoritas guru

2.  Hadiah dapat digunakan dalam pembentukan sikap moral, asalkan ..........
     A. sering diberikan     C. anak berbuat baik/benar
     B. cukup/kelebihan uang    D. anak naik kelas
3.  Tiga tahap perkembangan moral menurut Piaget adalah sebagai berikut, kecuali:  
    A. fase absolut     C. fase realistis
    B. fase subjektif     D. fase objektif
4.  Menurut Kohlberg, anak SD pada umumnya berada pada tingkatan perkembangan moral .......
      A. prakonvensional    C. konvensional
      B. paskakonvensional    D. tradisional
5.   Unsur yang terkait dengan pembentukan disiplin adalah sebagai berikut, kecuali:      A. peraturan sebagai pola yang diikuti  C. konsistensi aturan
      B.  hukuman/penghargaan   D. perasaan suka/tidak suka



Perkembangan moral menurut Kohlberg ada tiga tingkat dengan enam tahap yaitu tingkat praoperasional dengan tahap orientasi pada kepatuhan/hukuman dan relativistik, tahap konvensional dengan tahap orientasi mengenai anak baik dan mempertahankan norma sosial/otoritas, serta tingkat paska konvensional dengan tahap orientasi perjanjian diri dengan lingkungan dan tahap universal.

Faktor yang mempengarahi perkembangan moral antara lain: peran hati nurani, peran rasa malu dan bersalah, peran interaksi sosial. Sikap dan perilaku moral dapat dipelajari dengan cara coba dan ralat, pendidikan langsung, identifikasi.
Kepribadian merupakan suatu organisasi psikofisik yang dinamis ketika individu berinteraksi dan melakukan penyesuaian  dengan lingkungannya. Pada kepribadian melekat sifat atau temperamen sebagai kualitas perilaku atau pola penyesuain yang spesifik pada diri seseorang. Di dalam kepribadian juga terdapat konsep diri, yaitu persepsi/gambaran seseorang mengenai dirinya sendiri, dan menjadi inti kepribadian karena menentukan sikap seseorang ketika berinteraksi dengan lingkungannya. Ada konsep diri ideal yaitu konsep diri yang didambakan, konsep diri primer yang terbentuk ketika masih kecil.
Umpan Balik Dan Tindak Lanjut

Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif 3 yang terdapat pada bagian akhir unit ini. Masing-masing nomer benar mendapat skor 10. Jumlahkan skor benar, kemudian gunakan rumus  berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda dalam menguasai subunit ini.
Rumus: 
           Jumlah skor jawaban yang benar 
Tingkat penguasaan:  -----------------------------------------    x    100 %
                                                    50
Arti tingkat penguasaan yang Anda capai:
 90 – 100 = baik sekali
 80 – 89 = baik
 70 – 79 = cukup
      < 70 = kurang

Apabila penguasaan Anda mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan kegiatan pembelajaran di subunit berikutnya. Jika masih di bawah 80%, Anda sebaiknya mempelajarinya kembali, terutama bagian yang belum dikuasai
Subunit 4

Perkembangan Kepribadian 

 epribadian merupakan suatu kesatuan psikofisik yang bersifat dinamis dan menjadi karakteristik yang melekat pada seseorang yang membedakannya dengan orang lain. Perkembangan kepribadian merupakan topik yang akan kita kaji pada subunit 4  ini, dan sekaligus menjadi bagian akhir dari pembahasan mengenai aspek-aspek perkembangan peserta didik. Pada subunit ini, Anda  akan mempelajari pengertian kepribadian, termasuk  konsep diri, teori mengenai bermacam tipe kepribadian, faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian, dan kesehatan mental pada peserta didik didik usia SD/MI.

Pengertian Kepribadian
 Istilah kepribadian atau personality  berasal dari kata Latin ”persona” yang berarti topeng. Pada bangsa Yunani kuno, para aktor memakai topeng untuk menyembunyikan identitas mereka dan memungkinkan mereka memerankan tokoh dalam drama. Demikian juga pada bangsa Roma, ”persona” berarti bagaimana seseorang tampak pada orang lain. 
Dalam kehidupan sehari-hari terdapat beberapa  penggunaan istilah kepribadian. Diantaranya, kepribadian sebagai sesuatu yang dimiliki atau tidak dimiliki seseorang; kepribadian merupakan pengaruh seseorang terhadap orang lain; ada kepribadian yang menarik dan yang membosankan; kepribadian semata-mata faktor jasmaniah atau semata-mata hasil dari kebudayaan dan kepribadian merupakan sejumlah sifat seseorang.     
Memang cukup banyak pengertian dan pengunaan istilah kepribadian. Saat ini definisi pengertian kepribadian  kebanyakan mengikuti definisi yang dikemukakan oleh Allport (Sukmadinata, 2003). Menurut Allport ”personality is the dynamic organization within the individual of those psychophysical systems that determine his unique adjustment with the enviroment.”  Kepribadian merupakan suatu organisasi yang merujuk kepada suatu kondisi atau keadaan yang kompleks dan mengandung banyak aspek.
Kepribadian bersifat dinamis,  tidak statis, melainkan berkembang secara terbuka sehingga manusia senantiasa berada dalam kondisi perubahan dan perkembangan. Kepribadian meliputi aspek fisik dan psikis yang saling mempengaruhi dan membentuk satu kesatuan. Kepribadian selalu dalam penyesuaian diri yang unik dengan lingkungannya dan berkembang bersama-sama dengan lingkungannya, serta menentukan jenis penyesuaian yang akan dilakukan anak, karena tiap anak mempunyai pengalaman belajar yang berbeda satu dengan lainnya.
Dalam perkembangan kepribadian, konsep diri dan sifat-sifat seseorang merupakan hal atau komponen penting. Konsep diri merupakan konsep, persepsi, maupun gambaran seseorang mengenai dirinya sendiri, atau sebagai bayangan dari cermin diri. Konsep diri seseorang dipengaruhi dan ditentukan oleh peran dan hubungan-nya dengan orang lain, serta reaksi orang lain terhadap dirinya. Konsep diri ideal merupakan gambaran seseorang mengenai penampilan dan kepribadian yang didambakannya. 
Setiap konsep diri mempunyai aspek fisik dan psikis. Aspek fisik konsep diri merupakan konsep yang dimiliki seseorang berkenaan dengan penampilannya, dan kesesuaiannya dengan peran seks yang disandangnya. Aspek psikis berkenaan dengan kemampuan dan ketidakmampuan dirinya, harga diri, dan hubungannya dengan orang lain. Sifat merupakan kualitas perilaku atau pola penyesuaian yang spesifik. Misalnya,   reaksi seseorang terhadap masalah dan frustrasi, perilaku agresif dan defensif, perilaku terbuka dan tertutup ketika berinteraksi dengan orang lain. Ciri sifat tersebut ada yang terpisah dan ada yang terintegrasi dengan konsep diri. Sifat juga mempunyai dua ciri menonjol yaitu: (1) individualitas yang diperlihatkan dalam kuantitas ciri tertentu dan bukan kekhasan ciri bagi orang lain; serta (2) konsistensi yang berarti seseorang bersikap dengan cara yang hampir sama dalam situasi dan kondisi yang serupa. Konsep diri merupakan inti kepribadian yang mempengaruhi berbagai sifat yang menjadi ciri khas kepribadian seseorang

Macam Tipe Kepribadian 
 Walaupun setiap orang/anak memiliki kepribadian tersendiri, namun para ahli tetap berusaha untuk menyederhanakan dan mengelompokan sifat-sifat yang memiliki beberapa kesamaan. Berdasarkan hal tersebut, terdapat beberapa macam tipologi kepribadian. Tipologi kepribadian yang tertua bersifat jasmaniah atau fisik seperti  dikemukakan oleh Hippocrates dan Galenus, yang mengembangkan tipologi kepribadian berdasarkan cairan tubuh yang menentukan temperamen seseorang. Menurut mereka ada empat macam kepribadian.
1.
 Tipe kepribadian choleric (empedu kuning), yang dicirikan dengan pemilikan temperaman cepat marah, mudah tersinggung, dan tidak sabar.
2.
 Tipe melacholic (empedu hitam), yang berkaitan dengan pemilikan temperamen pemurung, pesimis, mudah sedih dan mudah putus asa.
3.
 Tipe phlegmatic (lendir), yang bertemperamen yang serba lamban, pasif, malas, dan kadang apatis/masabodoh.
4.
 Tipe sanguinis (darah), yang memiliki temperamen dan sifat periang, aktif, dinamis, dan cekatan. 


Tipologi yang dibuat Kretchmer dan Sheldon juga bersifat jasmaniah, yakni bentuk tubuh. Mereka membagi tipe kepribadian atas tiga macam.
1.
 Tipe asthenicus atau ectomorphic pada orang-orang yang  bertubuh tinggi kurus, memiliki sifat dan kemampuan berpikir abstrak dan kritis, tetapi suka melamun dan sensitif.
2.
 Tipe pycknicus atau endomorph pada orang yang bertubuh gemuk pendek, memiliki sifat periang, suka humor, populer dan mempunyai hubungan sosial luas, banyak teman, dan suka makan.
3.
 Tipe athleticus atau mesomorphic pada orang yang bertubuh sedang/atletis, memiliki sifat senang pada pekerjaan yang membutuhkan kekuatan fisik, pemberani, agresif, mudah menyesuaikan diri). 


Namun demikian, dalam kenyataannya lebih banyak manusia dengan tipe campuran (dysplastic).
Tipologi kepribadian yang bersifat psikis di antaranya dikemukakan oleh Jung, yang mengelompokan kepribadian berdasarkan kecenderungan hubungan sosial seseorang. Ia membagi kepribadian ke dalam dua tipe, yaitu: (1) tipe ekstrovert yang  perhatiannya lebih banyak tertuju ke luar, dan (2) tipe introvert yang perhatiannya lebih tertuju ke dalam dirinya, dan dikuasai oleh nilai-nilai subjektif. Tetapi, umumnya manusia mempunyai tipe campuran atau kombinasi antara ekstrovert dan introvert yang disebut ambivert. 
Spranger mengemukakan tipologi kepribadian berdasarkan kecenderungan seseorang akan nilai-nilai dalam kehidupan. Menurutnya ada enam tipe kepribadian yaitu: tipe teoretik, economi, aestetic,  sociatic, politic dan religius. Sementara itu, Erich Fromm membagi dua tipe kepribadian manusia yaitu: (1) tipe  berorientasi produktif, yang memiliki pandangan realistis dan mampu melihat segala sesuatu dengan kelebihan dan kekurangannya, serta mengatasi masalah dengan kerjasama dengan orang lain; serta (2) tipe berorientasi tidak produktif, yang mengambil bentuk menjadi tipe penerima (reseptif), pemeras (eksploitasi), tertutup, dan  pribadi pasar yang melihat kekuatan ada di dalam dirinya dan memanfaatkannya dengan memasarkan apa yang dimilikinya sesuai  dengan kebutuhan pasar  
 Pada periode anak sekolah, kepribadian anak belum terbentuk sepenuhnya seperti pada orang dewasa. Kepribadian mereka masih dalam proses pengembangan. Namun demikian, karakteristik anak secara sederhana dapat dikelompokan atas: (1) kelompok anak yang mudah dan menyenangkan, (2) anak yang biasa-biasa saja, dan (3) anak yang sulit dalam penyesuaian diri dan sosial, khsususnya dalam melakukan kegiatan pembelajaran di sekolah.
 
Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kepribadian
Studi mengenai perkembangan pola kepribadian mengungkapkan bahwa ada tiga faktor yang menentukan perkembangan kepribadian sesorang termasuk peserta didik usia SD/MI.
1.
 Faktor bawaan, termasuk sifat-sifat yang diturunkan secara genetik dari orang tua kepada anaknya, misalnya sifat sabar anak dikarenakan orang tuanya juga memiliki sifat sabar. Demikian juga, wawasn sosial anak dipengaruhi oleh tingkat kecerdasannya 
2.
 Pengalaman awal dalam lingkungan keluarga ketika anak masih kecil. Pengalaman itu membentuk konsep diri primer yang sangat mempengaruhi perkembangan kepribadian anak dalam mengadakan penyesuaian diri dan sosial pada perkembangan kepribadian periode selanjutnya. 
3.
 Pengalaman kehidupan selanjutnya dapat memperkuat konsep diri dan dasar kepribadian yang sudah ada, atau karena pengalaman yang sangat kuat sehingga mengubah konsep diri dan sifat-sifat  yang sudah terbentuk pada diri seseorang.

 
Pada perkembangan kepribadian anak, tidak ada kepribadian dan sifat-sifat anak yang benar-benar sama. Tiap anak adalah individu yang unik dan mempunyai pengalaman belajar dalam penyesuaian diri dan sosial yang berbeda secara pribadi. Selain itu, hal penting dalam perkembangan kepribadian adalah persistensi atau ketetapan dalam pola kepribadian. Artinya, terdapat kecenderungan bagi beberapa ciri sifat kerpibadian yang menetap dan relatif tidak berubah sehingga mewarnai perilaku seseorang secara khusus. Persistensi dapat disebabkan oleh kondisi bawaan anak, pendidikan yang dialami/ diterima anak, nilai-nilai orang tua dan lingkungan kelompok teman sebaya, serta peran dan pilihan anak ketika berinteraksi dengan lingkungan sosial. 
Persistensi diperlukan karena dapat menjadi landasan yang kuat, yang dapat menjamin penyesuaian anak. Mereka dapat segera mengetahui dan bertindak dengan cepat dan tepat apabila ada perkembangan kepribadian yang agak menyimpang. Perubahan dapat saja terjadi karena perubahan fisik yang pesat, perubahan lingkungan dan tekanan sosial, tuntutan  kehidupan, perubahan peran, serta bantuan profesional untuk mengubah konsep diri yang negatif dan merugikan.
 Sehubungan dengan perkembangan kepribadian, perlu dijaga dan dikondisikan agar terbangun mental yang sehat. Kesehatan mental memiliki tiga komponen utama.
1.
 Memiliki rasa diri berharga sebagai landasan bagi penerimaan diri dan bekal untuk menerima orang lain, serta mendapat gambaran dirinya secara positif sehingga dapat menggunakan kemampuan dan kecakapannya untuk dirinya sendiri dan orang lain.
2.
 Merasa puas akan perannya dalam kehidupan di keluarga, sekolah, dan masyarakat sehingga ia merasa diterima  dan puas dengan perannya tersebut.
3.
 Terjalin hubungan yang baik dengan orang lain sehingga dapat bekerja sama. 


Kesehatan mental seseorang hampir seluruhnya tercipta berkat interaksinya dengan lingkungan di sekitar anak. Namun, ketidaksehatan mental mungkin berawal dari individu anak ataupun lingkungannya. Agar tercipta kesehatan mental, perlu diciptakan lingkungan sosio-psikologis yang sehat dan wajar, menciptakan interaksi dengan anak yang didasari kasih sayang dan penghargan anak sebagai individu, memelihara kesehatan fisik anak sehingga dapat mengikuti berbagai aktivitas belajar dan bermain, menciptakan dan memotivasi anak untuk melakukan berbagai kegiatan yang sesuai dengan usia,  minat dan bakatnya.  Lingkungan yang sehat bukan saja akan menularkan kesehatan mental, tetapi juga menjadi contoh bagi anak-anak untuk hidup dan berkembang secara sehat. 

Latihan
Saudara, selesailah sudah bahasan kita tentang perkembangan moral. Untuk memantapkan pemahaman Anda atas materi yang baru dipelajari, kerjakanlah latihan berikut ini.
1.
 Mengapa konsep diri primer yang terbentuk pada masa anak awal penting bagi perkembangan dan pembentukan kepribadian seseorang?
2.
 Bagaimana memelihara kesehatan mental agar tercipta situasi kondusif untuk mengembangkan kepribadian anak secara sehat dan wajar?


Sudah selesai? Baik, mari bandingkan jawaban Anda dengan rambu-rambu  jawaban latihan berikut ini.
1.
 Konsep diri primer yang terbentuk pada masa anak awal relatif menetap dan menjadi dasar bagi sikap dan perilaku anak dalam berinteraksi dengan lingkungan serta melakukan penyesuaian diri maupun sosial yang akan mewarnai kepribadiannya. Anak yang mengalami konsep diri negatif pada masa kecil, akan mewarnai perilakunya dan mengalami kesulitan dalam perkembangan kepribadian selanjutnya, hingga terbawa dewasa.
2.
 Kesehatan mental dapat dipelihara dengan menciptakan lingkungan sosial dan psikologis yang kondusif, positif, menyenangkan, tidak stres dan banyak tekanan, didasarkan pada kasih sayang, memotivasi anak, mendukung anak mengembangkan bakat minat, dsb. 


Rangkuman


















Tes Formatif 4
Kerjakanlah tes formatif berikut dengan menjawab pertanyaan berikut ini.   
1.  Jelaskan secara singkat beberapa istilah sebagai berikut:
     a. kepribadian b. konsep diri  c. persistensi  d. temperamen
2.  Beri contoh untuk tipologi kepribadian yang didasarkanpada  hal jasmaniah/fisik dan psikis!

Umpan Balik Dan Tindak Lanjut

Cocokkanlah jawaban Anda dengan kunci jawaban tes formatif 4 yang terdapat pada bagian akhir unit ini. Masing-masing nomor yang benar mendapat skor dengan rentangan 0 -10, tergantung ketepatan jawaban. Jumlahkan skor yang benar, kemudian gunakan rumus  berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan Anda dalam menguasai subunit ini.
Rumus: 
    Jumlah skor jawaban yang benar 
Tingkat penguasaan:  ------------------------------------------- x    100 %
20
Arti tingkat penguasaan yang Anda capai:
 90 – 100 = baik sekali
 80 – 89 = baik
 70 – 79 = cukup
      < 70 = kurang

Apabila penguasaan Anda mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat meneruskan dengan kegiatan pembelajaran di subunit berikutnya. Jika masih di bawah 80%, Anda sebaiknya mempelajarinya kembali, terutama bagian yang belum dikuasai
Kunci Jawaban Tes Formatif

Tes Formatif 1
1.
 C. konkret operasional
2.
 C. multiple factors
3.
 C. 90 – 110
4.
 D.  asimilasi
5.
 A.  sensorimotor


Tes Formatif 2
1.
 Bahasa sebagai alat komunikasi dapat diungkapkan secara lisan, tertulis, dan isyarat.
2.
 Menurut Owen, ada tiga komponen utama dalam bahasa, yaitu  bentuk/form, isi, dan penggunaan.
3.
 Empat keterampilan berbahasa yang dipelajari di sekolah meliputi keterampilan:  mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.
4.
 Pola perkembangan bahasa anak dimulai dengan kemampuan berbicara yang diungkapkan dengan kegiatan  menangis, celoteh, mengucapkan kata, kemudian kalimat sederhana dan kalimat lengkap. 
5.
 Kendala dalam perkembangan bahasa pada anak, antara lain keterlambatan bicara, tunawicara dan cacat sehingga tidak dapat mengucapkan kata dengan jelas, tertukar-nya bunyi huruf, gagap, bingung karena dwibahasa, dsb.


Tes Formatif 3
1.
 A. jera dan tidak mengulangi perbuatannya
2.
 C. anak berbuat baik/benar
3.
 D. fase objektif
4.
 B. konvensional
5.
 D. perasaan suka /tidak suka


Tes Formatif 4
1.a.  Kepribadian merupakan suatu organisasi psikofisik yang dinamis dari individu ketika berinteraksi dan mengadakan penyesuaian diri dengan lingkungannya.
   b.   Konsep diri merupakan persepsi/gambaran seseorang mengenai dirinya sendiri, dan menjadi inti kepribadian karena menentukan sikap seseorang ketika berinteraksi dengan lingkungannya.
   c.   Persistensi merupakan ketetapan sifat/temperamen yang terbentuk karena kebiasaan dan mewarnai kepribadian seseorang
   d.  Temperamen merupakan kualitas perilaku atau pola penyesuain yang spesifik pada diri seseorang.

2. Contoh tipologi kepribadian yang didasarkan hal jasmaniah/fisik adalah tipe kepribadian  choleric, melancholic, phlegmatic, dan sanguinis. Contoh untuk tipologi kepribadian yang didasarkan hal  psikis adalah tipe kepribadian introvert dan ekstrovert.
Daftar Pustaka

Gunarsa, S.D. 1985.  Dasar dan Teori Perkembangan Anak.  Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Hurlock, E.B. 1990. Perkembangan Anak, jilid 1 dan 2. Alihbahasa Meitasari Tjandrasa dan Muslichah Zarkasih.  Jakarta: Erlangga.

Semiawan, C.R. 1999. Perkembangan dan Belajar Peserta Didik.  Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Simandjuntak, B. dan Pasaribu, I.L. 1984. Pengantar Psikologi Perkembangan. Bandung: Tarsito. 

Sinolungan, R.E. 1997. Psikologi Perkembangan Peserta Didik.  Jakarta: Gunung Agung.

Sukmadinata, N.S. 2003. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: Rosdakarya



  Glosarium

Intelek     :  kecerdasan, mampu memecahkan masalah dengan            
                                         logis/rasional
Internalisasi nilai   :  penghayatan nilai sehingga menjadi keyakinan yang    
                                         diwujudkan  dalam sikap dan perbuatan
Kecerdasan ganda   :  kecerdasan berbagai hal seperti kecerdasan/kemampuan  
                                         matematis, verbal, kinestetik/gerak, dll.
Konsep diri    :  gambaran/pandangan seseorang terhadap dirinya sendiri
Konservasi angka   :  pemanfaatan angka secara terarah/terstruktur
Skema kognitf      :  kerangka/rancangan kognitif/pemikiran
                                          Struktur pengetahuan : susunan pengetahuan yang  
                                          dibentuk berdasarkan skema kognitif dan 
                                          adaptasi/penyesuaian melalui akomodasi dan/atau   
                                          asimilasi




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar